RADARTUBAN – Temuan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) diduga berbelatung di sejumlah sekolah di Kecamatan Palang menyisakan trauma bagi sebagian orang tua siswa. Mereka takut anaknya menjadi korban keracunan MBG, apabila kejadian serupa kembali terulang.
‘’Banyak orang tua yang cemas setelah kejadian itu,’’ kata RD, inisial salah satu orang tua siswa SD di Desa Cepokorejo.
Bahkan, terang dia, kini sebagian orang tua tidak mengizinkan anaknya langsung memakan MBG yang diterima dari sekolah.
‘’Saking khawatirnya (dengan kejadian-kejadian keracunan MBG yang viral di televisi dan media sosial, Red), kini para orang tua harus ngecek dulu kondisi MBG sebelum dimakan anaknya,’’ ujarnya.
RD mengungkapkan, kondisi serupa sangat mungkin terulang karena jumlah porsi MBG yang dibagikan kepada anak-anak sangat banyak. Karena itu, dibutuhkan tenaga ekstra untuk memastikan satu per satu porsi MBG.
‘’Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kini sebagian orang tua berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak langsung memakan MBG sebelum dicek kelayakannya,’’ tandasnya.
Sementara itu, hingga kemarin (10/3), Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tuban, Aulia Rizqi masih bungkam dan terkesan mengabaikan temuan roti gulung berbelatung di sejumlah sekolah di Kecamatan Palang tersebut.
Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan koran ini selama dua hari tak membuahkan hasil. Pesan via WhatsApp dan telepon masih diabaikan.
Terpisah, Wakil Ketua Satgas Program MBG Tuban Abdul Rakhmat mengaku belum mengetahui adanya temuan menu MBG berbelatung di wilayah Kecamatan Palang tersebut.
Namun demikian, Rakhmat menegaskan bahwa setiap persoalan MBG yang muncul ke permukaan menjadi atensi satgas.
‘’Setiap pemberitaan MBG di media dan yang viral di media sosial pasti menjadi atensi,’’ katanya.
Dalam pengawasannya, lanjut Rakhmat, setiap SPPG yang bermasalah akan dimintai klarifikasi. Selanjutnya, dari hasil klarifikasi tersebut akan disampaikan ke Badan Gizi Nasional (BGN) untuk dilakukan tindak lanjut.
‘’Biasanya, kami juga meminta ada evaluasi dari SPPG yang dilaporkan secara rutin kepada kami,’’ ujarnya.
Hanya saja, terang mantan kepala Dinas Pendidikan Tuban itu, Satgas MBG tidak memiliki kewenangan untuk menindak, apalagi menutup SPPG yang terbukti melakukan pelanggaran.
‘’Selama ini, ketika ada aduan dari masyarakat, langsung kami klarifikasi, lalu kami disampaikan ke BGN. Soal tindak lanjutnya seperti apa, itu kewenangan BGN,’’ jelas dia.
Rakhmat kemudian mencontohkan kasus dugaan keracunan di SPPG Montong beberapa waktu lalu. Satgas MBG tidak bisa memberikan tindakan apa pun.
Kewenangan satgas hanya mengecek terkait dugaan keracunan dengan menunggu hasil laboratorium.
‘’Setelah hasilnya (penyebab keracunan diketahui, Red), akhirnya BGN menutup SPPG Montong,’’ jelasnya.
Pun demikian dengan temuan menu Ramadan di wilayah Kecamatan Palang yang diduga berbelatung. Pihaknya hanya bisa melakukan klarifikasi, lalu melaporkan ke BGN.
‘’Kalau seumpama BGN menyebut prosedurnya ditutup, ya tentunya ditutup,’’ pungkasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama