Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelang Idul Fitri, Harga Sembako di Tuban Merangkak Naik, Stok Minyak Kita Menipis

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 20 Maret 2026 | 09:15 WIB

ilustrasi pasar bahan pokok
ilustrasi pasar bahan pokok

RADARTUBAN – Menjelang Idul Fitri, harga sejumlah bahan pokok di Tuban kembali merangkak naik.

Kenaikan ini terjadi hampir pada seluruh komoditas, mulai dari gula, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, cabai, hingga bawang merah.

Berdasarkan pantauan pada laman sistem informasi ketersediaan dan perkembangan harga bahan pokok Jawa Timur, siskaperbapo.jatimprov.go.id, tren kenaikan harga terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini bahkan disertai kelangkaan pada beberapa produk tertentu.

Salah satunya minyak goreng merek Minyak Kita yang sulit ditemukan di pasaran, baik dalam kemasan refill, bantal, maupun botol. Minyak goreng dalam kemasan gelas berukuran 250 mililiter juga mulai jarang tersedia.

Kalaupun ada, harganya mengalami kenaikan. Minyak Kita kemasan satu liter yang sebelumnya dijual sekitar Rp 16.500 kini sudah menyentuh kisaran Rp 19.000.

Bagus Ivan, salah satu pedagang di Pasar Merakurak mengatakan, kenaikan harga bahan pokok sebenarnya sudah terjadi sejak sebelum Ramadan. Komoditas seperti beras, bawang merah, cabai, dan minyak goreng mulai mengalami kenaikan hingga awal Ramadan.

Setelah sempat melandai, harga sejumlah komoditas kembali naik menjelang Idul Fitri. “Tapi setiap Ramadan memang seperti ini, apalagi menjelang Idul Fitri,” ujarnya.

Ivan mengaku heran karena beberapa merek minyak goreng justru sulit ditemukan di pasaran tahun ini. Minyak Kita, misalnya, sudah mulai langka sejak awal Ramadan. Setelah itu, minyak goreng dengan harga murah juga ikut menghilang dari peredaran. “Beberapa kali pesan dari sales pun katanya sudah tidak ada,” kata dia.

Kondisi tersebut membuat sebagian pembeli terpaksa mengurangi jumlah belanja. Kenaikan harga dan terbatasnya stok membuat pengeluaran rumah tangga harus lebih dihemat. “Tapi ada juga yang tetap belanja banyak meski mahal, biasanya karena ada hajatan di rumah,” ujar Ivan.

Pedagang lain, Sugeng, menilai kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan dan Idul Fitri sebenarnya bukan hal baru. Menurut dia, tren kenaikan harga selalu terjadi hampir setiap tahun.

“Terutama minyak goreng dan bawang merah. Itu sejak sebelum Ramadan sudah naik dan tidak ada turun-turunnya,” katanya.

Dia memerkirakan harga bahan pokok baru kembali melandai setelah Idul Fitri. Biasanya penurunan mulai terasa sekitar sepekan setelah Lebaran, atau yang oleh masyarakat Jawa dikenal dengan istilah puasa kupat.

Sementara itu, Kepala Diskopumdag Tuban Gunadi mengatakan, kebutuhan bahan pokok memang mengalami beberapa kali kenaikan, seperti cabai merah, cabai keriting, bawah merah, dan daging ayam ras.

Selain kenaikan, sejumlah komoditas juga mengalami tren turun, meski tidak signifikan. ‘’Seperti bawang putih dan telur ayam ras terpantau turun, meski tidak ekstrem,’’ ujarnya.

Gunadi memastikan saat ini stok bahan pokok aman, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. ‘’Insyaallah stok aman,’’ pungkasnya.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#daging #miyak goreng #bawang #bahan pokok #idul fitri