RADARTUBAN – Bupati Aditya Halindra Faridzky tampaknya menyadari betul bahwa salah satu sumber kegaduhan di era digital adalah media sosial.
Karena itu, seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkab Tuban diminta untuk selalu menjaga “jempolnya” dalam bermedia sosial, utamanya di momen libur Lebaran seperti sekarang.
Mas Lindra—sapaan akrab bupati—mengungkapkan, kesalahan kecil dalam bermain media sosial bisa berdampak luas, dan bahkan fatal.
Karena itu, bupati muda kelahiran 1992 ini mengimbau betul kepada seluruh ASN Pemkab Tuban untuk bijak dalam bermedia sosial.
Yang menjadi kekhawatiran adalah budaya flexing—perilaku memamerkan kekayaan, barang mewah, prestasi, atau gaya hidup secara berlebihan di media sosial untuk mendapatkan perhatian, pengakuan, dan validasi status sosial.
Dan momen Lebaran adalah tempatnya—yang kadang tidak menyadari—bahwa yang dilakukan adalah flexing, karena sedang dalam kondisi bahagia—bertemu sanak keluarga dan kawan lama.
‘’Jangan sampai membuat kegaduhan (di media sosial, Red) dan merusak citra pemerintahan,’’ ujarnya mengimbau kepada seluruh ASN Pemkab Tuban, baik PNS, PPPK penuh waktu maupun PPPN paruh waktu.
Sebagaimana jamak dipahami, media sosial era sekarang tidak jauh beda dengan dunia nyata. Bahkan, kadang interaksinya jauh lebih mengerikan ketimbang dunia nyata. Karena itu, kesalahan sekecil apa pun harus dihindari.
‘’Penting untuk memiliki kesadaran dalam bermedia sosial,’’ tutur Mas Lindra.
Lebih lanjut, bupati dua periode itu berpesan, seluruh ASN di lingkup Pemkab Tuban harus memiliki dedikasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Artinya, ketika bekerja tidak hanya sekadar gugur tugas, tapi juga harus memiliki kedisiplinan dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
‘’Kita harus memiliki sensitivitas terhadap kondisi masyarakat di lapangan. Bahwa tugas apartur tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga aktif mencatat berbagai persoalan yang ditemui di lingkungan sekitar. Itulah makna dedikasi terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai apartur,’’ tegasnya.
Konkritnya, ASN harus selalu hadir di tengah masyarakat, baik dalam kondisi susah maupun senang.
‘’Misalnya, ketika menemukan kondisi jalan rusak, anak putus sekolah, atau warga yang membutuhkan bantuan, itu harus dicatat dan disampaikan kepada pemerintah agar bisa segera ditindaklanjuti,’’ tandasnya. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama