Ramadan tapi Malah Sepi, Okupansi Hotel di Tuban Justru Anjlok

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Jumat, 27 Maret 2026 | 18:25 WIB
Ilustrasi menginap di hotel.
Ilustrasi menginap di hotel.

RADARTUBAN – Momentum Ramadan belum menjadi berkah bagi industri perhotelan di Tuban. Dalam beberapa tahun terakhir, bulan puasa justru identik dengan sepinya tingkat hunian kamar hotel.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban menunjukkan, selama Maret 2025—bertepatan dengan Ramadan—tingkat penghunian kamar (TPK) hanya mencapai 11,66 persen. Angka ini turun signifikan dibandingkan Februari yang berada di level 20,07 persen.

Tren serupa juga terjadi pada 2024, ketika TPK hanya berada di angka 14,86 persen.

Baca Juga: Perlukah Merapikan Kamar Hotel Sebelum Check Out? Ini Etika yang Perlu Dipahami Tamu

Statistisi Ahli Muda BPS Tuban Ika Rahmawati menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya mobilitas masyarakat untuk perjalanan jarak jauh selama bulan puasa.

“Selama Maret 2025, hanya 6.220 tamu yang menginap. Padahal, pada bulan normal bisa mencapai delapan hingga sebelas ribu pengunjung,” ujarnya.

Dia menambahkan, euforia mudik dan perayaan Idul Fitri yang biasanya menghadirkan pergerakan massa besar tidak serta-merta mampu mendongkrak okupansi hotel. Lonjakan tamu yang terjadi hanya dalam satu hingga dua hari dinilai belum cukup menutup rendahnya tingkat hunian selama sebulan penuh.

Selain itu, karakteristik wisata di Tuban juga turut memengaruhi. Wisata religi yang menjadi salah satu daya tarik utama daerah ini cenderung tidak mendorong penggunaan jasa akomodasi.

Menurut Ika, mayoritas tamu hotel di Tuban berasal dari kalangan pelaku bisnis, bukan wisatawan rekreasi. Aktivitas seperti pertemuan perusahaan, kegiatan industri, maupun agenda pemerintahan menjadi penyumbang utama okupansi hotel.

“Struktur ekonomi Tuban didominasi sektor industri. Tamu hotel lebih banyak dari kegiatan bisnis,” jelasnya.

Meski demikian, dia tidak menutup kemungkinan adanya perbaikan pada tahun ini. Ramadan 2026 yang jatuh pada akhir Februari dinilai memberi ruang bagi peningkatan okupansi sebelum periode puasa dimulai, terutama jika didukung oleh berbagai kegiatan atau event.

“Event pemerintah maupun kegiatan dari pelaku usaha bisa menjadi pemicu meningkatnya kunjungan sebelum Ramadan,” katanya.

Secara umum, pola menginap tamu di Tuban tergolong singkat. Rata-rata lama tinggal hanya 1,31 hari, atau sekitar satu hingga dua malam.

Karena itu, peningkatan signifikan biasanya terjadi saat ada event berskala nasional, kegiatan bisnis besar, maupun momentum libur panjang seperti akhir tahun dan libur sekolah.

Baca Juga: Kenapa Toilet Kamar Hotel Berada di Dekat Pintu Masuk? Ini Penjelasan Praktisi Perhotelan

Dalam kondisi tersebut, sektor perhotelan di Tuban masih sangat bergantung pada pergerakan kegiatan ekonomi dan agenda besar, bukan semata pada momen musiman seperti Ramadan.(saf/ds)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
Tuban okupansi hotel