12 Warga Tuban Meninggal Akibat DBD Sepanjang 2025, Merakurak Jadi Wilayah Tertinggi

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 29 Maret 2026 | 16:03 WIB
12 nyawa melayang akibat DBD di Tuban sepanjang 2025. Dinkes P2KB ingatkan pentingnya kebersihan lingkungan dan deteksi dini gejala panas.
12 nyawa melayang akibat DBD di Tuban sepanjang 2025. Dinkes P2KB ingatkan pentingnya kebersihan lingkungan dan deteksi dini gejala panas.

RADARTUBAN – Ketergantungan masyarakat pada fogging sebagai solusi utama pemberantasan nyamuk masih menjadi tantangan besar dalam penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Tuban.

Pola pikir ini dinilai menghambat upaya pencegahan yang jauh lebih efektif, yakni Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 868 kasus DBD. Kecamatan Merakurak menempati urutan tertinggi dengan 119 kasus, disusul Kecamatan Kerek (98 kasus), dan Kecamatan Plumpang (84 kasus).

Baca Juga: Keluhan MBG Boleh Diposting: Satgas Tuban Minta Kritik Disampaikan Secara Akurat

Dari total kasus tersebut, 12 pasien dilaporkan meninggal dunia. Kasus kematian tersebar di beberapa wilayah, dengan angka tertinggi di Kecamatan Palang (3 kasus), diikuti Kecamatan Merakurak dan Tuban masing-masing 2 kasus, serta 5 kecamatan lainnya masing-masing 1 kasus.

Plt Kepala Dinkes P2KB Tuban, Atiek Supartiningsih, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah mengedukasi masyarakat bahwa fogging bukanlah solusi tuntas.

"Masyarakat menganggap setelah fogging urusan selesai. Padahal, jentik nyamuk tidak mati dan dalam hitungan hari akan muncul nyamuk baru," tegasnya.

Atiek menjelaskan, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa tanpa menyentuh sumber perkembangbiakannya.

Langkah paling efektif tetaplah PSN mandiri dengan membersihkan sampah, menguras genangan air, dan tidak menggantung pakaian.

"PSN itu sebenarnya mudah dan murah. Justru fogging lebih rumit karena memerlukan prosedur pengajuan serta verifikasi lapangan," imbuh Atiek.

Selain masalah pencegahan, Atiek juga menyoroti keterlambatan deteksi dini yang memicu kematian.

Banyak pasien baru dibawa ke fasilitas kesehatan saat kondisi sudah kritis. 

Dia mengimbau masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan jika muncul gejala awal DBD agar risiko fatal dapat ditekan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Tuban nyamuk PSN Merakurak Demam Berdarah