Lapangan Kerja Sempit, Ratusan Warga Tuban Pilih Adu Nasib Jadi Pekerja Migran

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 29 Maret 2026 | 15:51 WIB
Disnakerin Tuban catat pergeseran tren negara tujuan PMI. Malaysia mulai ditinggalkan, sektor perhotelan & konstruksi kian diminati. (RADAR TUBAN)
Disnakerin Tuban catat pergeseran tren negara tujuan PMI. Malaysia mulai ditinggalkan, sektor perhotelan & konstruksi kian diminati. (RADAR TUBAN)
 
RADARTUBAN – Lapangan kerja di dalam negeri yang kian sempit memaksa sebagian warga Tuban mencari jalan lain.

Bekerja ke luar negeri bukan lagi sekadar opsi, melainkan jalan cepat untuk bertahan dan berharap hidup lebih layak.

Fenomena itu tercermin dari meningkatnya jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bumi Ronggolawe. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Tuban Rohman Ubaid menyebut, dorongan utama warga adalah kebutuhan untuk segera mendapatkan pekerjaan.

Baca Juga: Keluhan MBG Boleh Diposting: Satgas Tuban Minta Kritik Disampaikan Secara Akurat

“Diperkirakan karena mereka termotivasi untuk segera mendapatkan kerja, sehingga terbesit untuk mencari kerja di luar negeri,” ujarnya.

Sepanjang 2025, tercatat 344 warga Tuban berangkat menjadi PMI ke berbagai negara.

Dari jumlah itu, 154 orang melalui skema private to private (P2) lewat Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Sisanya, 190 orang, menempuh jalur mandiri dan program government to government (G2G).

Tren tersebut berlanjut pada 2026. Hingga akhir Februari, 22 calon PMI tengah menjalani proses pemberangkatan.

Sebelum berangkat, mereka wajib melalui tahapan pelatihan, mulai peningkatan keterampilan hingga kesiapan fisik dan mental.

Di sisi lain, peta negara tujuan mulai bergeser.

Malaysia yang sebelumnya menjadi tujuan utama kini tak lagi dominan. Kebijakan moratorium di sejumlah sektor membuat minat ke negara jiran itu menurun.

“Malaysia yang dulunya jujukan terbanyak, sekarang mengalami penurunan karena ada moratorium di beberapa sektor. Namun, saat ini sektor perkebunan dan asisten rumah tangga di sana mulai dibuka kembali,” jelasnya.

Sebagai gantinya, negara-negara seperti Taiwan, Hongkong, Turki, dan Arab Saudi kini menjadi tujuan favorit.

Pergeseran juga terjadi pada jenis pekerjaan. 

Jika sebelumnya didominasi sektor domestik, kini PMI asal Tuban mulai merambah bidang konstruksi hingga perhotelan.

Meski demikian, disnakerin menegaskan tidak lepas tangan. Pengawasan tetap dilakukan, terutama dalam memastikan kelengkapan dokumen dan keamanan negara tujuan.

“Kami memiliki kewenangan pengendalian. Kami tidak akan memberikan rekomendasi untuk bekerja ke negara-negara yang sedang dalam kondisi konflik demi keselamatan warga,” tegas Rohman.

Di tengah keterbatasan peluang kerja di dalam negeri, menjadi PMI memang menawarkan harapan.

Namun, di balik itu, ada tanggung jawab negara untuk memastikan setiap langkah warganya tetap berada dalam koridor aman dan terlindungi.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
luar negeri pekerja pmi migran