RADARTUBAN – Ancaman kekeringan mulai membayangi Kabupaten Tuban.
Fenomena global “Godzilla El Nino” diperkirakan memperparah musim kemarau tahun ini, yang datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban mengingatkan, meski kondisi perairan setempat lebih dipengaruhi faktor cuaca lokal, dampak tidak langsung dari fenomena global tersebut tetap tidak bisa diabaikan.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Terjang Sidoarjo, 15 Penerbangan di Bandara Internasional Juanda Terganggu
Kemarau Lebih Cepat, Curah Hujan Turun
Kepala BMKG Tuban Muhammad Nur menyebut, sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki periode kering secara bertahap pada April hingga Juni 2026.
“Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya,” ujarnya.
Artinya, suplai air alami berpotensi menurun sejak awal musim, memicu risiko kekeringan lebih dini.
Apa Itu “Godzilla El Nino”?
Nur menjelaskan, istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang terjadi secara signifikan dan berdampak luas pada pola cuaca global.
Meski Tuban lebih dipengaruhi kondisi lokal, kombinasi antara El Nino yang menguat dan cuaca lokal yang kering bisa memperparah penurunan curah hujan.
“Perairan Tuban lebih berpengaruh pada kondisi cuaca lokal, tetapi bukan berarti El Nino tidak berdampak,” jelasnya.
Puncak Kemarau Diprediksi Agustus
Selain lebih kering, durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih panjang. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah yang bergantung pada curah hujan sebagai sumber air utama.
BMKG Minta Warga Siaga Air Sejak Dini
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak menunggu krisis terjadi. Langkah mitigasi harus dilakukan sejak awal.
Warga diminta mulai menghemat penggunaan air serta menyiapkan cadangan, seperti melalui embung atau tandon.
“Dengan risiko kekeringan yang diprediksi selama kemarau tahun ini, disarankan untuk menghemat penggunaan air dan menyiapkan cadangan air,” kata Nur.
Baca Juga: Merasa Hidup Stagnan? Waspadai 5 Jebakan Mental Ini
Ancaman ke Pertanian dan Karhutla
Dampak kemarau panjang juga mengintai sektor pertanian. Petani diminta menyesuaikan kalender tanam, memilih varietas tahan kering, serta mengoptimalkan sistem irigasi.
Di sisi lain, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat seiring kondisi panas dan kering.
Masyarakat diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Angin dapat memperbesar api dan memicu kebakaran yang lebih luas,” tegasnya.
Cuaca Panas dan Risiko Kesehatan
Kondisi cuaca yang lebih panas juga berpotensi meningkatkan suhu ekstrem dan menurunkan kualitas udara.
Masyarakat disarankan membatasi aktivitas luar ruangan pada siang hari, menggunakan pelindung diri, serta menjaga kecukupan cairan tubuh.
“Waspada juga pada potensi El Nino yang bisa memperparah kekeringan,” pungkasnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama