Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Naik 1,16 Persen, IPM Tuban Masih Tertinggal dari Kabupaten Tetangga

Shafa Dina Hayuning Mentari • Sabtu, 4 April 2026 | 14:57 WIB
BPS Tuban ungkap IPM Tuban tertahan karena pendidikan stagnan. (unsplash.com/Ed Us)
BPS Tuban ungkap IPM Tuban tertahan karena pendidikan stagnan. (unsplash.com/Ed Us)

RADARTUBAN – Keberadaan kawasan industri dan perguruan tinggi di Kabupaten Tuban belum sepenuhnya berbanding lurus dengan capaian indeks pembangunan manusia (IPM). Dibandingkan kabupaten tetangga seperti Bojonegoro dan Lamongan, posisi Tuban masih tertinggal.

Pada 2025, IPM Tuban tercatat sebesar 73,15. Angka ini meningkat 0,84 poin atau 1,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 72,31. Dalam tiga tahun terakhir, sejak 2022, rata-rata pertumbuhan IPM Tuban mencapai 1,07 persen per tahun.

Namun, capaian tersebut belum cukup untuk mengejar daerah sekitar. IPM Bojonegoro tercatat 73,74, Lamongan 76,81, sementara Gresik sudah menyentuh angka 79,69.

Baca Juga: Jawa Timur Melorot, Indonesia Timur Masih Terpuruk di Peringkat IPM 2024

Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, Triana Pujilestari menjelaskan, IPM dibentuk oleh beberapa dimensi utama, yakni umur panjang dan hidup sehat, standar hidup layak, serta rata-rata lama sekolah (RLS).

“Semua dimensi tersebut menunjang peningkatan IPM. Namun, yang membuat IPM Tuban tertinggal masih dari dimensi RLS yang stagnan,” ujarnya, Rabu (1/4).

Menurut Triana, pertumbuhan IPM tidak hanya ditentukan oleh keberadaan infrastruktur atau industri, namun juga sejauh mana dampaknya terhadap kualitas manusia.

Di Tuban, meski terdapat industri berskala nasional, struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor pertanian.

Dia menambahkan, karakter industri di Tuban cenderung padat modal, bukan padat karya. Kondisi ini membuat kebutuhan tenaga kerja relatif terbatas.

“Kalaupun membutuhkan tenaga kerja, pasti dicari yang memiliki kualifikasi dan keahlian khusus. Sedangkan di kabupaten tetangga, lebih banyak industri padat karya yang membutuhkan dan mendatangkan banyak pekerja dari wilayah lain,” paparnya.

Dari sisi pendidikan, keberadaan perguruan tinggi di Tuban juga belum memberi dampak signifikan terhadap peningkatan IPM. Sebagian besar lulusan SMA justru memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri di luar daerah.

“RLS yang stagnan menjadi faktor kenapa IPM Tuban masih tertinggal. Jika ada satu saja indikator yang rendah, itu berpengaruh pada kenaikan IPM,” kata Triana.

Meski demikian, peluang untuk mengejar ketertinggalan tetap terbuka. Dia menyebut, intervensi kebijakan yang tepat dapat mendorong percepatan peningkatan IPM.

Triana merekomendasikan pemerintah daerah untuk memperkuat program pendidikan. Salah satunya melalui penguatan program kejar paket guna meningkatkan rata-rata lama sekolah.

“Kami memberikan rekomendasi pada pemkab untuk meningkatkan IPM ini, salah satunya menggalakkan program kejar paket untuk meningkatkan RLS yang juga bisa mengangkat angka IPM ini,” ujarnya.(saf/ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #indeks pembangunan manusia #bps #ipa