RADARTUBAN – Menjamurnya butik fesyen, pusat belanja modern, hingga kafe-kafe baru di Tuban belum mampu mengubah arah belanja masyarakat.
Warga masih menempatkan kebutuhan dasar sebagai prioritas, dengan konsumsi makanan dan minuman sebagai pos utama pengeluaran.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban menunjukkan, rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat mencapai Rp 1,3 juta per bulan.
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 710 ribu atau 54,02 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman. Sementara itu, pengeluaran nonmakanan tercatat sebesar Rp 605 ribu atau 45,98 persen.
Baca Juga: Menkes Sebut Iuran BPJS Lebih Murah dari Rokok, Kenaikan Tarif Hanya Sasar Warga Mampu
Statistisi Ahli Muda BPS Tuban Triana Pujilestari mengatakan, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) mengindikasikan pola konsumsi masyarakat masih didominasi kebutuhan primer.
Pergeseran ke kebutuhan sekunder dan tersier belum signifikan, meski perkembangan pusat perbelanjaan terus terjadi.
“Masyarakat cenderung memenuhi kebutuhan hidup dasar terlebih dahulu, baru kemudian ke pengeluaran sekunder dan tersier. Kehadiran pusat perbelanjaan baru tidak serta-merta mengubah pola ini,” ujarnya, Rabu (1/4).
Di antara pengeluaran makanan, rokok menempati posisi kedua terbesar setelah makanan dan minuman jadi. Rata-rata warga mengalokasikan Rp 97.167 per bulan atau 7,31 persen dari total pengeluaran makanan untuk konsumsi tembakau.
Angka ini melampaui sejumlah kebutuhan gizi seperti protein dan sayuran. Adapun pengeluaran terbesar masih berada pada konsumsi makanan dan minuman jadi, yakni Rp 238.919 atau 18,15 persen.
“Konsumsi rokok penduduk Tuban menjadi yang tertinggi kedua setelah makanan jadi. Ini menunjukkan belanja rokok masih lebih tinggi dibandingkan makanan sehat lainnya,” kata Triana.
Pada kelompok nonmakanan, kebutuhan perumahan dan fasilitas rumah tangga mendominasi dengan rata-rata Rp 300.369 per bulan. Disusul aneka komoditas dan jasa sebesar Rp 147.661.
Secara keseluruhan, biaya hidup masyarakat Tuban mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata pengeluaran per kapita meningkat Rp 51.287 per bulan. Kenaikan ini dipengaruhi tren inflasi yang terjadi setiap tahun.
“Trennya cenderung naik karena inflasi, namun tetap bergantung pada kondisi ekonomi masing-masing individu,” ujarnya.
Memasuki 2026, pola konsumsi diperkirakan mulai bergeser. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprediksi mendorong peningkatan pengeluaran pada kategori makanan dan minuman jadi. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama