RADARTUBAN – Setelah pelaksanaan manasik haji terakhir tingkat kabupaten pada Kamis (2/4), petugas haji mulai mendata kebutuhan kursi roda bagi calon jemaah haji (CJH) asal Tuban. Hasil sementara menunjukkan puluhan jemaah memerlukan alat bantu mobilitas tersebut.
Data yang dihimpun menunjukkan, dari kloter 28 terdapat 5 jemaah yang membutuhkan kursi roda. Sementara di kloter 29 tercatat 23 orang, dan kloter 27 sekitar 10 orang. Jumlah ini masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan yang masih berlangsung.
Para jemaah yang membutuhkan kursi roda umumnya merupakan kelompok lanjut usia (lansia) dan berisiko tinggi (risti). Kondisi kesehatan yang tidak lagi prima menjadi faktor utama perlunya alat bantu selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Baca Juga: Manasik Haji Tuban Masuki Tahap Akhir, Digelar 2 April di Tingkat Kabupaten
Pelaksana Tugas Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Tuban Abd Ghofur mengatakan, pemerintah memberikan perhatian khusus bagi jemaah lansia dan risti. Salah satunya melalui kebijakan pendampingan selama pelaksanaan ibadah.
“Bagi lansia dan risti, pemerintah memberikan kebijakan khusus. Mereka bisa mengajukan pendamping agar ibadah tetap bisa dijalankan dengan baik,” ujarnya.
Menurut dia, pendamping yang diusulkan sebaiknya berasal dari keluarga dekat, seperti anak atau menantu, yang dinilai mampu membantu secara optimal selama ibadah berlangsung.
Selain itu, petugas haji akan melakukan pemantauan secara intensif sejak proses pemberangkatan hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan jemaah tetap terjaga.
“Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh jemaah, khususnya yang berkategori risti, tetap dalam kondisi aman,” kata Ghofur.
Saat ini, Kemenhaj bersama Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban juga tengah menyiapkan layanan pemeriksaan kesehatan bagi CJH. Pemeriksaan dapat dilakukan di puskesmas, termasuk melalui program layanan kesehatan gratis.
Dia berharap, dalam kurun waktu sekitar 24 hari menjelang keberangkatan pada 27 April, para jemaah dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menjaga kondisi tubuh tetap bugar.
Terkait kemungkinan adanya penolakan dari otoritas Arab Saudi terhadap jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu, Ghofur menyatakan optimistis hal tersebut tidak terjadi.
Berdasarkan informasi yang diterima, pemeriksaan kesehatan di Arab Saudi dilakukan secara sampling, bukan menyeluruh.
“Semoga saja jemaah yang menggunakan kursi roda nanti baik-baik saja dan bisa menjalankan ibadah dengan baik,” ujarnya.(fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama