RADARTUBAN – Fenomena kelangkaan tabung gas LPG 3 kilogram di Kabupaten Tuban mulai berangsur teratasi.
Stok gas bersubsidi tersebut kini relatif lebih mudah dijumpai, bahkan harga di sejumlah pangkalan dilaporkan telah kembali sesuai harga eceran tertinggi (HET).
Namun, kondisi di lapangan belum sepenuhnya normal. Warga masih harus mengantre panjang selama berjam-jam untuk mendapatkan tabung gas melon tersebut. Pemandangan ini terlihat di berbagai pangkalan, terutama di wilayah perkotaan, Senin (7/4).
Baca Juga: DPRD Tuban Siap Sidak Gas Elpiji 3 Kg, Cek Harga dan Distribusi di Lapangan
Di salah satu pangkalan di Jalan Mojopahit, Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, antrean warga sudah mengular sejak sebelum distribusi datang. Begitu kendaraan pengangkut menurunkan tabung gas, puluhan warga langsung berjubel di sepanjang bahu jalan.
Sebagian warga mengaku telah menunggu sejak pagi, bahkan tidak sedikit yang datang dari luar desa. Sugeng, warga Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding mengaku sudah beberapa hari kesulitan mendapatkan LPG. “Sekarang harganya sudah sesuai HET, tapi mau tidak mau tetap harus mengantre lama,” ujarnya.
Dia menyebut, kondisi kelangkaan sempat membuat harga LPG melonjak di atas ketentuan.
Meski kini harga mulai normal, distribusi yang belum merata masih menjadi persoalan. “Di tempat saya masih ada yang jual di atas HET, bahkan di kios harganya mahal,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Ratmi, warga setempat. Dia mengaku sempat harus berkeliling hingga ke luar kecamatan untuk mendapatkan LPG.
“Sebelumnya susah sekali, ada yang jual harus bawa kartu keluarga, ada juga yang mahal. Semoga cepat normal,” ujarnya.
Sementara itu, penjaga pangkalan LPG di lokasi tersebut menyatakan pihaknya telah menjual sesuai ketentuan, yakni Rp 18 ribu per tabung. Namun, dia tidak menampik adanya praktik penjualan di atas HET di sejumlah tempat lain.
Menanggapi kondisi ini, Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan pasokan LPG di Tuban dalam kondisi aman.
Dia menilai tingginya konsumsi masyarakat menjadi penyebab cepat habisnya stok di pangkalan. “Tingkat konsumsi cukup tinggi, sehingga pasokan cepat habis,” ujarnya.
Dia menambahkan, pengawasan distribusi terus dilakukan, terutama untuk memastikan harga di pangkalan sesuai dengan HET.
Jika ditemukan pelanggaran, pihaknya memastikan akan memberikan sanksi tegas sebagai bentuk pembinaan. (an/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama