Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Internet Desa di Tuban Dikeluhkan Lemot dan Mahal, Kades Minta Ganti Operator

M. Mahfudz Muntaha • Minggu, 12 April 2026 | 15:03 WIB
Kualitas internet desa dinilai lemot dan tak sebanding dengan biaya, DPRD Tuban akan panggil operator. (RADAR TUBAN)
Kualitas internet desa dinilai lemot dan tak sebanding dengan biaya, DPRD Tuban akan panggil operator. (RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Layanan internet desa yang semula digadang sebagai penopang digitalisasi kini justru menuai keluhan.

Sejumlah kepala desa di Kabupaten Tuban menilai kualitas jaringan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan.

Program internet desa yang dioperatori ICON+ disebut mengalami penurunan kinerja. Selain akses yang lambat, jangkauan jaringan dinilai terbatas.

Padahal, layanan tersebut sebelumnya diproyeksikan mendukung kebutuhan administrasi desa sekaligus akses masyarakat terhadap layanan digital.

Baca Juga: BRI Jadi Bank Pertama Raih Sertifikasi ISO/IEC 25000, Perkuat Transformasi Digital

Setiap desa diketahui harus mengalokasikan anggaran hingga sekitar Rp 2,6 juta per bulan untuk berlangganan. Dengan kondisi layanan yang dinilai tidak optimal, beban tersebut dianggap cukup memberatkan.

Ketua DPC Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Tuban, Suhadi mengungkapkan keluhan terhadap layanan internet desa sebenarnya telah berlangsung cukup lama.

Dia mengatakan, banyak desa merasa kualitas layanan internet jauh dari yang dijanjikan saat awal pemasangan.

“Dulu disampaikan unlimited dan bisa dimanfaatkan warga desa. Tapi, kenyataannya lambat, jangkauannya juga terbatas. Bahkan rumah yang berdekatan dengan balai desa saja kadang tidak terhubung,” ujarnya.

Selain kualitas jaringan, respons terhadap gangguan juga dinilai belum memadai. Perbaikan memang dilakukan saat ada laporan, namun kondisi jaringan kerap kembali melambat dalam waktu singkat.

Dengan kondisi tersebut, para kepala desa menilai tarif layanan seharusnya dapat disesuaikan. Mereka memerkirakan biaya ideal berada di kisaran Rp 500-600 ribu per bulan.

Keluhan ini telah disampaikan kepada DPRD Tuban. Para kepala desa berharap difasilitasi untuk bertemu dengan pihak operator guna mencari solusi, baik melalui penyesuaian tarif maupun opsi beralih ke penyedia lain.

Beban langganan yang mencapai sekitar Rp 31 juta per tahun dinilai cukup berat. Terutama di tengah penyesuaian anggaran desa.

Ketua Komisi II DPRD Tuban, Fahmi Fikroni membenarkan pihaknya telah mengagendakan pemanggilan terhadap pihak ICON+ untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

Baca Juga: Prancis Tinggalkan Windows untuk Lawan AS, Siap Migrasi ke Linux demi Kedaulatan Digital

“Kami sudah agendakan pemanggilan. Tinggal menunggu waktu yang tepat,” ujarnya.

Dia erharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak, termasuk kemungkinan penyesuaian tarif maupun opsi pergantian operator sesuai kebutuhan desa.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#internet desa #iconet #tua #digital #DP