RADARTUBAN – Cuaca cerah yang mendominasi beberapa hari terakhir menjadi penanda peralihan musim di Kabupaten Tuban.
Terik matahari pada siang hari, meski sesekali diselimuti awan mendung tanpa hujan, mengindikasikan musim penghujan mulai berakhir.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Tuban diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada dasarian kedua April, yakni periode 11–20 April. Seiring itu, intensitas hujan diprediksi berangsur menurun.
Kepala BMKG Tuban, Muhammad Nur, menyampaikan bahwa secara klimatologis pertengahan April merupakan fase awal peralihan menuju musim kemarau.
Baca Juga: El Nino 2026 Berpotensi Capai 80 Persen, BMKG Waspadai Ancaman Karhutla
“Berdasarkan data klimatologi Jawa Timur, pertengahan April Tuban sudah masuk musim kemarau. Sehingga intensitas hujan berangsur turun,” ujarnya.
Meski demikian, masyarakat diingatkan tetap mewaspadai potensi hujan. Pada masa pancaroba, hujan masih mungkin terjadi meski dengan intensitas lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Menurutnya, hujan yang turun cenderung bersifat lokal dengan durasi singkat. Intensitasnya bervariasi, mulai dari ringan hingga sesekali lebat, namun tidak berlangsung lama.
“Masih ada potensi hujan, tapi sifatnya tidak merata dan durasinya relatif singkat. Biasanya hanya terjadi di wilayah tertentu saja,” jelasnya.
Prakiraan cuaca maritim BMKG juga menunjukkan bahwa pada Sabtu hingga Senin mendatang masih terdapat peluang hujan ringan hingga disertai petir di sejumlah wilayah.
Kondisi ini merupakan karakteristik umum masa pancaroba, di mana cuaca dapat berubah dalam waktu singkat.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada dan menyiapkan perlengkapan seperti payung atau jas hujan saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi yang memiliki mobilitas tinggi.
Peralihan musim ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk mulai beradaptasi dengan perubahan pola cuaca yang semakin dinamis. (fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama