RADARTUBAN – Persoalan gizi buruk pada balita di Tuban belum sepenuhnya teratasi.
Meski jumlah kasus menunjukkan tren penurunan, tantangan di lapangan masih membayangi, mulai dari pola asuh yang keliru hingga maraknya konsumsi jajanan rendah nutrisi.
Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban Atiek Supartiningsih menyebut, upaya menekan angka gizi buruk tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan.
Kompleksitas persoalan di luar aspek medis menjadi kendala utama.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban yang bersumber dari Dinkes P2KB, tercatat sebanyak 591 balita mengalami gizi buruk dari total 59.159 balita yang ditimbang selama tahun 2025.
Baca Juga: Kasus Tambang Ilegal Eks Anggota DPRD Tuban Masuk Meja Hijau, tapi Tak Kunjung Ditahan
Angka tersebut mengalami penurunan dari tahun 2024 yang mencatatkan 1.379 balita mengalami gizi buruk dari 60.860 balita yang ditimbang.
“Secara perbandingan dengan jumlah kelahiran dalam setahun angka tersebut memang tergolong kecil, tapi jumlah tersebut masih perlu ditekan lebih rendah lagi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurut Atiek, penanganan gizi buruk membutuhkan waktu dan pendekatan menyeluruh. Intervensi tidak hanya soal asupan makanan, namun juga melibatkan kondisi lingkungan hingga pola pengasuhan anak.
Faktor ekonomi masih menjadi tantangan dalam pemenuhan gizi. Namun, pengetahuan orang tua dalam memilih dan memberikan asupan nutrisi dinilai sama pentingnya dalam mencegah anak mengalami kekurangan gizi.
Dia juga menyoroti kuatnya pengaruh budaya yang belum selaras dengan prinsip kesehatan. Salah satunya adalah praktik pemberian makanan padat terlalu dini, seperti pisang, pada bayi.
“Seharusnya bayi belum boleh mengonsumsi makanan padat karena usus mereka masih belum siap untuk mencerna jenis makanan ini,” lanjutnya.
Kondisi tersebut kerap diperparah oleh lingkungan yang kurang higienis. Anak menjadi lebih rentan sakit, nafsu makan menurun, dan berisiko mengalami gizi buruk.
Di sisi lain, perubahan gaya hidup turut memunculkan tantangan baru. Balita kini semakin akrab dengan jajanan rendah nutrisi yang tinggi penyedap rasa. Dampaknya, anak cenderung menolak makanan rumahan karena sudah merasa kenyang lebih dulu.
Baca Juga: Begini Aturan WFH Setiap Jumat yang Diterapkan ASN Pemkab Tuban
“Untuk menangani ini tidak hanya dari sisi kesehatan saja, tapi juga dari lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya. Harus ada peran serta juga dari orang tua karena mereka yang lebih memahami kondisi anak,” paparnya.
Atiek menegaskan, intervensi harus dilakukan secara maksimal dan terpadu. Tanpa keterlibatan orang tua dalam mengontrol pola makan anak, upaya penurunan stunting dan gizi buruk akan sulit dicapai.
“Harus ada sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, masyarakat, dan mitra swasta. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan bisa mencegah anak tidak jatuh dalam kondisi gizi buruk yang dapat berdampak panjang pada masa depan generasi muda di Tuban,” tandasnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama