RADARTUBAN – Ratusan atlet karate mendapatkan kabar mengejutkan.
Cabang olahraga karate dikabarkan tidak lagi masuk dalam daftar pertandingan pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).
Keputusan ini langsung memicu reaksi dari berbagai pihak, mulai dari pelatih, atlet, hingga pemerhati olahraga. Apalagi, selama ini karate menjadi salah satu cabang favorit yang konsisten melahirkan atlet muda berprestasi dari berbagai daerah.
O2SN yang digelar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dikenal sebagai ajang penting dalam menjaring bibit atlet sejak usia dini, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah.
Baca Juga: Squash PON 2028 Jadi Momentum, PSI Jawa Timur Percepat Pembinaan Atlet
Dicoretnya karate dari daftar pertandingan membuat banyak pihak merasa kehilangan ruang pembinaan yang krusial.
Salah satu pelatih karate di Tuban, berinsial DT menjelaskan, bagi pelatih dan dojo, O2SN bukan sekadar kompetisi, melainkan panggung awal bagi atlet muda untuk mengasah mental tanding sekaligus mengukur kemampuan.
Karate sendiri selama ini tidak hanya identik dengan kekuatan fisik, tetapi juga pembentukan karakter seperti disiplin, keberanian, dan sportivitas.
Tak sedikit atlet nasional yang memulai karier dari ajang pelajar seperti O2SN sebelum menembus level nasional hingga internasional.
"Sejumlah pengurus cabang karate di daerah pun menyayangkan keputusan tersebut," tegas dia.
Mereka berharap adanya evaluasi agar cabang ini dapat kembali dipertandingkan di masa mendatang.
Menurut mereka, pembinaan olahraga di sekolah seharusnya tetap memberi ruang bagi cabang yang memiliki sistem pembinaan kuat dan berkelanjutan.
Dampak keputusan ini juga dirasakan langsung oleh para atlet muda. Banyak di antara mereka yang telah berlatih keras dengan harapan bisa tampil dan membawa nama sekolah maupun daerah di O2SN.
"Meski demikian, semangat para karateka muda diharapkan tidak surut. Masih terdapat berbagai kejuaraan lain yang bisa menjadi wadah untuk menunjukkan kemampuan dan meraih prestasi," ungkap dia.
Bagi komunitas karate di Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa menjaga eksistensi olahraga bukan hanya soal bertanding di arena, tetapi juga bagaimana memperjuangkan keberlanjutan pembinaan di tingkat kebijakan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama