Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pikap 4x4 untuk Semua Desa di Tuban Dinilai Tak Tepat Sasaran, Boros dan Minim Fungsi

Ahmad Atho’illah • Kamis, 16 April 2026 | 11:22 WIB
Praktisi otomotif menilai mobil 4x4 KDMP tidak cocok untuk operasional desa di Tuban yang akses jalannya sudah baik. (JAWA POS)
Praktisi otomotif menilai mobil 4x4 KDMP tidak cocok untuk operasional desa di Tuban yang akses jalannya sudah baik. (JAWA POS)

RADARTUBAN - Tidak semua desa di Kabupaten Tuban berada di wilayah pegunungan atau perbukitan.

Karena itu, penyeragaman kendaraan operasional pikap 4x4 untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) adalah kebijakan tanpa pertimbangan matang.

Secara administratif, hampir sebagian besar wilayah Tuban berada di dataran rendah. Sementara wilayah kawasan hutan atau perbukitan hanya sekitar 28 persen atau kurang lebih 85 desa dari total 311 desa se-Kabupaten Tuban.

Itu pun tidak semuanya dalam kondisi infrastruktur buruk. Hampir semua jalan penghubung antardesa di Kota Siwalan sudah beraspal.

Baca Juga: Program KDMP Dikritik FITRA Jatim: Tak Ada Skala Prioritas dan Mengabaikan Karakteristik Desa

Pun sebagian besar lahan pertanian di Tuban juga sudah dibangun jalan usaha tani. Artinya, secara akses pertanian juga sudah memadai.

Itulah alasan kenapa pengadaan kendaraan pikap 4x4 untuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak cocok dengan karakteristik wilayah Kabupaten Tuban.

Ahmad Roziki, praktisi otomotif Tuban mengatakan, mobil 4WD (Four-Wheel Drive) atau 4x4 adalah jenis kendaraan double cabin dengan sistem penggerak di keempat roda secara bersamaan.

Mobil jenis ini dirancang untuk medan berat atau off-road. Paling cocok untuk kegiatan perkebunan, pertambangan, dan kegiatan lain di daerah terpencil dengan medan pegunungan atau perbukitan. 

‘’Intinya, mobil 4x4 diperuntukan pada jalan yang belum jadi atau makadam, seperti area pertambangan,’’ katanya.

Meski juga bisa dipakai di jalan normal atau beraspal, namun secara fungsi kurang pas. Sebab, kecepatan kendaraan 4x4 ini paling ideal hanya 40 kilometer (km) per jam. Selain itu, juga boros BBM karena CC (cubic centimeter)-nya di atas 2000.

‘’Makanya diperuntukan di medan dengan akses sulit, seperti jalan-jalan curam dan berlumpur,’’ ujar pria yang juga pengusaha rental tersebut.

Disinggung soal pengadaan pikap 4x4 untuk menunjang kegiatan operasional KDMP, termasuk semua desa di Kabupaten Tuban, Paejan—sapaan akrab Ahmad Roziki—menilai, mobil 4x4 kurang tepat jika difungsikan untuk menunjang kegiatan operasional Kopdes Merah Putih.

‘’Kecuali untuk menunjang bisnis koperasi di bidang pertambangan. Kalau sekadar untuk kegiatan operasional harian, sepertinya tidak sesuai fungsi,’’ jelasnya.

Baca Juga: 57 Desa Tuban Bangun KDMP Dapat Truk, Pikap, dan Tossa, tapi Untuk Angkut Apa?

Disinggung soal kemungkinan untuk mengangkut hasil panen petani, baik padi, jagung, maupun kacang tanah. Paejan memberikan pandangan, jika sekadar untuk mengangkut hasil panen petani, pikap L300 sudah cukup.

‘’Kecuali kalau rodanya diganti roda traktor, sekalian untuk nraktor sawah,’’ katanya dengan canda.

Sebab, penyeragaman pengadaan pikap 4x4 untuk semua desa se-Indonesia, termasuk semua desa se-Kabupaten Tuban adalah keputusan yang kurang tepat. Tidak sesuai kondisi dan karakteristik desa masing-masing.

‘’Kalau di desa dengan wilayah perbukitan seperti Desa Dagangan, Kecamatan Parengan, mungkin masih cocok, tapi kan tidak semua desa di Tuban berada di wilayah perbukitan. Bahkan sebagian besar di wilayah dataran rendah, dan dengan akses infrastruktur yang sudah baik. Jadi, kalau diberi mobil 4x4, ya kurang tepat secara fungsi,’’ tandasnya. (tok/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #siwalan #hutama karya #koper #KDMP