RADARTUBAN – Lebih dari 250 karateka dari berbagai perguruan di Kabupaten Tuban menyatakan sikap tegas terkait dikeluarkannya cabang olahraga karate dari Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) serta tidak dipertandingkannya dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun 2026.
Aksi pernyataan sikap dilakukan di Taman Kota Tuban Abhipraya dipimpin oleh Sensei Hendri Utomo, penasihat FORKI Tuban.
Kegiatan ini diikuti oleh karateka dari berbagai aliran, yakni Inkanas, Lemkari, Gojukai, Shoto-kai, BKC, Shokaido, Inkai, hingga Porbikawa.
Baca Juga: O2SN Coret Karate dari Daftar Lomba, Atlet Tuban Terancam Kehilangan Panggung Prestasi
Ketua FORKI Tuban, Angga Yulistianto, yang turut hadir sebagai narasumber menyampaikan bahwa keputusan tersebut menimbulkan keprihatinan di kalangan insan karate, khususnya dalam konteks pembinaan atlet usia dini.
“Karate selama ini menjadi salah satu cabang olahraga yang konsisten membina karakter generasi muda melalui jalur pendidikan. Ketika tidak lagi dipertandingkan di O2SN, tentu ini akan berdampak pada keberlanjutan pembinaan,” ujarnya.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan bersama, para karateka Tuban menegaskan bahwa karate bukan sekadar olahraga.
Melainkan sarana pembentukan karakter, disiplin, serta nilai-nilai luhur yang telah membina generasi muda Indonesia selama puluhan tahun.
Mereka juga menyayangkan keputusan yang mengeluarkan karate dari DBON dan tidak memasukkannya dalam O2SN 2026.
Menurut mereka, kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek prestasi, tetapi juga berpotensi memutus mata rantai pembinaan atlet pelajar.
Adapun isi pernyataan sikap karateka Tuban sebagai berikut:
- Menolak penghapusan karate dari DBON.
- Meminta agar karate kembali dipertandingkan dalam O2SN sebagai bagian dari pembinaan pelajar.
- Mengajak seluruh insan olahraga untuk melihat karate sebagai investasi karakter bangsa, bukan sekadar cabang kompetisi.
Meski demikian, para karateka menegaskan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai BUSHIDO, yakni kehormatan, disiplin, dan pantang menyerah.
“Keputusan boleh berubah, kebijakan bisa berganti. Namun semangat kami untuk berlatih, berkembang, dan menjaga nilai karate tidak akan pernah hilang. Karate tidak bergantung pada panggung. Karate hidup dalam jiwa,” tegas dia.
Pernyataan ini ditutup dengan penegasan komitmen para karateka Tuban untuk terus menjaga eksistensi dan nilai-nilai karate di tengah dinamika kebijakan olahraga nasional. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama