RADARTUBAN – Kasus dugaan perundungan di lingkungan SMP Sabilul Muhtadin, Desa Karangasem, Kecamatan Jenu, terus bergulir.
Setelah dua hari viral dan menyedot perhatian publik, fakta-fakta baru mulai terkuak. Dugaan keterlibatan lebih dari satu pelaku menguat, seiring keberanian korban yang mulai angkat suara.
Penelusuran di lapangan menunjukkan, peristiwa ini bukan kejadian tunggal. Salah satu orang tua korban, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku baru mengetahui kondisi anaknya setelah video perundungan itu tersebar luas di media sosial.
Dia menyebut anaknya mengalami kekerasan fisik sekaligus tekanan mental.
Baca Juga: Perundungan SMP Sabilul Muhtadin Jenu, Disdik Tuban: Pelaku Bullying Tak Boleh Putus Sekolah
“Anak saya ditendang berkali-kali, dilakukan secara beramai-ramai. Dari pengakuannya, ada sekitar tujuh sampai delapan anak yang terlibat. Saya berharap kasus ini diusut tuntas,” ujarnya.
Tak hanya itu, korban disebut mengalami perlakuan yang dinilai tak manusiawi. Dia dipaksa berkelahi, dilempar, hingga diintimidasi untuk tidak melapor kepada guru meski mengalami luka.
Dari keterangan korban, aksi perundungan terjadi berulang, masing-masing pada 7 Maret, 14 April, dan 15 April. Rangkaian kejadian ini memunculkan dugaan adanya korban lain.
Kepolisian kini masih mendalami kasus tersebut. Kasi Humas Polres Tuban, Iptu Siswanto menyatakan, proses pemeriksaan terhadap saksi, korban, maupun terduga pelaku masih berlangsung. “Pemeriksaan saksi-saksi masih berjalan,” katanya.
Dia juga mengungkapkan, video yang viral di media sosial pada Sabtu (18/4) sebenarnya direkam lebih awal. “Video tersebut diambil pada 7 Maret, namun baru viral beberapa hari terakhir,” ujarnya.
Sementara itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban langsung melakukan penelusuran di sekolah setelah kasus mencuat. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik Tuban, Irma Putri Kartika menyebut hasil klarifikasi sementara mengarah pada delapan pelaku dan tiga korban.
“Dari hasil klarifikasi di lapangan, ada delapan pelaku dan tiga korban,” ungkapnya.
Dia memastikan kondisi korban mulai membaik. Namun, tidak semua siap kembali ke sekolah. Disdik meminta pihak sekolah memberi ruang pemulihan tanpa paksaan.
“Ada yang sudah siap kembali, ada yang belum. Kami sarankan tidak dipaksakan,” tuturnya.
Saat ini, baik korban maupun pelaku menjalani pendampingan oleh tenaga profesional. Langkah ini ditempuh untuk menjaga kondisi psikologis mereka pascakejadian yang terlanjur viral.
Baca Juga: Video Bullying Pelajar SMP Sabilul Muhtadin Jenu Viral, Disdik Tuban Siapkan Sanksi ke Sekolah
“Fokus kami tetap pada pemulihan korban, namun penanganan terhadap pelaku juga tidak diabaikan. Untuk sanksi, masih dalam kajian lebih lanjut,” tandas Irma.(an/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama