RADARTUBAN – Keterbatasan dokter spesialis masih menjadi pekerjaan rumah di RSUD R. Ali Manshur Jatirogo.
Minimnya minat penempatan membuat sejumlah layanan spesialis belum sepenuhnya ditopang tenaga tetap.
Untuk menjaga layanan tetap berjalan, rumah sakit setempat mengandalkan dokter tamu dari luar daerah.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Direktur RSUD R. Ali Manshur, Roikan mengakui kondisi tersebut. Pada rekrutmen CPNS 2025, formasi dokter spesialis nyaris tak diminati.
Baca Juga: RSUD dr R Koesma Tuban Disorot DPRD, Akreditasi Turun dan Keluhan Meningkat tapi Dibiarkan
Dari sejumlah kebutuhan yang dibuka, hanya satu posisi yang terisi. “Itu pun karena kami yang mendorong, akhirnya dokter tersebut bersedia,” ujarnya.
Komposisi tenaga medis spesialis saat ini didominasi dokter non-organik. Sebagian berasal dari rumah sakit lain, termasuk RSUD dr. R. Koesma Tuban, serta dokter swasta yang membuka praktik. Sementara dokter spesialis berstatus ASN masih terbatas.
Untuk menutup kekosongan, manajemen rumah sakit tak tinggal diam. Roikan bahkan turun langsung mengajak dokter dari Bojonegoro dan Rembang agar bersedia praktik di Jatirogo.
Berbagai fasilitas ditawarkan, termasuk layanan antar-jemput. “Kami fasilitasi agar mereka mau praktik di sini,” katanya.
Kendala utama, menurut dia, terletak pada faktor geografis. Lokasi yang relatif jauh dari pusat kota membuat banyak dokter mempertimbangkan ulang, terutama terkait biaya operasional.
“Gaji sebenarnya sudah tinggi, tapi tunjangan memang tidak sebesar di RSUD Koesma,” ungkapnya.
Sejumlah layanan spesialis yang kini masih diisi dokter tamu, antara lain, ortopedi, mata, rehabilitasi medik, dan patologi klinik. Kehadiran mereka menjadi penopang agar layanan tetap berjalan tanpa hambatan.
Meski begitu, upaya penguatan tenaga tetap terus dilakukan. RSUD R. Ali Manshur menargetkan ke depan kebutuhan dokter spesialis dapat dipenuhi oleh tenaga ASN. Saat ini, beberapa layanan dasar seperti spesialis anak, kandungan, bedah, dan penyakit dalam sudah tersedia, meski belum seluruhnya berstatus PNS.
“Selain itu, tahun ini ada satu dokter internal kami yang selesai pendidikan spesialis,” ujar Roikan. Dia berharap tambahan tenaga tersebut bisa menjadi awal penguatan layanan spesialis di rumah sakit yang dipimpinnya. (fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama