Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Anggaran Proyek Konstruksi di Tuban Terpaksa Dihitung Ulang karena Harga Material Melonjak

Ahmad Atho’illah • Jumat, 24 April 2026 | 17:14 WIB
Dampak konflik global, proyek jalan di Tuban berpotensi berkurang dari rencana awal.
Dampak konflik global, proyek jalan di Tuban berpotensi berkurang dari rencana awal.

RADARTUBAN – Seluruh paket proyek infrastruktur yang telah direncanakan dalam APBD 2026 berpotensi mengalami perubahan total.

Kondisi ini dipicu lonjakan harga energi global yang berdampak langsung pada kenaikan harga material konstruksi.

Dampak Gejolak Global, Proyek Daerah Ikut Tertahan

Kenaikan harga energi akibat konflik Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel membuat paket proyek fisik di lingkungan Pemkab Tuban belum kunjung dilelang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRPRKP) Tuban, Agung Supriyadi, membenarkan adanya potensi perubahan perencanaan proyek secara menyeluruh.

Baca Juga: Proyek Fisik Mandek, DPUPR Tuban Belum Lakukan Tender Hingga April

Harga Material Melonjak, HPS Harus Disesuaikan

Menurut Agung, kenaikan harga sejumlah material seperti aspal, baja, besi beton, hingga material finishing impor telah melampaui harga perkiraan sendiri (HPS) yang sebelumnya disusun.

Akibatnya, diperlukan penyesuaian ulang berdasarkan harga terkini agar proyek tetap realistis untuk dilaksanakan.

Salah satu kenaikan paling signifikan terjadi pada aspal. ‘’Berdasar surat dari Pertamina, per April ini harga aspal mengalami kenaikan,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Meski tidak semua material naik setinggi aspal, perubahan harga tetap memengaruhi keseluruhan perhitungan proyek.

Setiap kenaikan berdampak langsung pada HPS yang telah dirancang sebelumnya.

Volume Proyek Berpotensi Menyusut

Penyesuaian HPS tidak hanya berdampak pada jadwal lelang yang molor, tetapi juga pada volume pekerjaan. Proyek infrastruktur terpaksa mengalami pengurangan skala.

Sebagai contoh, pembangunan jalan yang semula direncanakan sepanjang 2 kilometer bisa berkurang menjadi sekitar 1,8 kilometer setelah penyesuaian anggaran.

Untuk proyek gedung, penyesuaian tidak bisa dilakukan dengan mengurangi desain secara sederhana seperti proyek jalan.

‘’(Soal proyek gedung, Red) nanti kami lihat dulu perhitungannya—sejauh mana pengaruh kenaikan harga material terhadap keseluruhan perhitungan konstruksi,’’ jelasnya.

Lelang Ditarget Segera, Proyek Mendesak Diprioritaskan

Terkait waktu penyelesaian penyesuaian harga, Agung belum dapat memastikan. Namun, pihaknya menegaskan proses tersebut akan dipercepat agar proyek bisa segera dilelang.

Utamanya, proyek perbaikan jalan seperti jalan lingkar selatan (JLS) yang membutuhkan penanganan cepat.

‘’Pokoknya secepatnya,’’ tandas mantan Kepala Bagian Pengadaan Barang/Jasa Setda Tuban itu.

Baca Juga: PSSI Tunjuk David Nascimento Tangani Garuda United, Proyek Besar Menuju Piala Dunia U-17 2027

Kontraktor Pilih Menunggu

Di sisi lain, kalangan kontraktor juga mengakui lambannya proses lelang. AM, salah satu kontraktor, menyebut penyesuaian HPS merupakan langkah yang tidak bisa dihindari.

Menurutnya, lonjakan harga material, khususnya aspal, sudah berada di luar batas wajar.

‘’Salah satu pengusahaan AMP (aspal) mengaku ada kenaikan aspal yang edan-edannya. Kalau dipaksakan dengan HPS sebelumnya, para kontraktor bisa bangkrut,’’ ujarnya.

Dia menambahkan, para rekanan lebih memilih menunggu kepastian penyesuaian daripada mengambil risiko kerugian.

‘’Semua rekanan juga menunggu kapan paket proyek dilelang, tapi juga tidak mungkin mengerjakan proyek dengan kenaikan harga material yang ugal-ugalan. Jadi, tidak masalah agak lamban (tendernya, Red),’’ tandasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #materai elektronik #Energi Global #apbd