RADARTUBAN – Secara kalender musim, wilayah Tuban sudah memasuki musim kemarau. Namun, intensitas hujan belum sepenuhnya reda.
Beberapa hari terakhir ini, misalnya, hujan masih mengguyur sejumlah wilayah di Kota Siwalan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban Muhammad Nur menjelaskan, berdasarkan press release BMKG mengenai prediksi awal musim kemarau 2026, awal musim kering di Tuban sejatinya diprediksi jatuh pada dasarian II dan III bulan April. Namun, transisi musim tidak terjadi secara instan.
‘’Fluktuasi cuaca saat ini merupakan hal yang lumrah terjadi selama masa peralihan musim,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Baca Juga: Marc Marquez Juara Sprint MotoGP Spanyol 2026 di Tengah Hujan dan Drama Jatuh
Menurutnya, selama bulan April ini, wilayah pesisir pantai utara masih berada dalam masa transisi musim atau pancaroba dari musim hujan menuju musim kemarau.
Karakteristik utama dari masa ini adalah seringnya terjadi hujan dengan intensitas tinggi namun dalam durasi yang relatif singkat.
‘’Kondisi ini didorong oleh adanya gangguan atmosfer berupa fenomena Gelombang Equatorial Rossby yang diprediksi bertahan hingga akhir pekan ini, sehingga memicu peningkatan curah hujan di wilayah kita,” terangnya.
Lebih lanjut, mantan kepala stasiun meteorologi Aek Godang Sumatra Utara itu memaparkan, terdapat faktor teknis lain yang mendukung pertumbuhan awan hujan secara masif di langit Jawa Timur.
Kondisi tersebut menyebabkan massa udara bergerak dan terkonsentrasi di atas daratan Pulau Jawa.
Situasi tersebut kian diperparah dengan suhu muka laut di sekitaran perairan Jawa Timur yang terpantau cenderung hangat.
‘’Anomali suhu muka laut yang hangat ini sangat mendukung pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah Jawa Timur, termasuk di Tuban. Massa udara yang bergerak diperkuat oleh penguaran tinggi di laut,” tambahnya.
Dia juga memaparkan, intensitas curah hujan akan berangsur-angsur berkurang seiring memasuki musim kemarau.
Selama bulan April, curah hujan berada dalam kategori menengah sebesar 101-150 mm. Kemudian akan semakin berkurang pada bulan Mei menjadi kategori rendah sebesar 51-100 mm.
‘’Lalu selama musim kemarau, prediksi curah hujan di Tuban untuk setiap bulannya dalam kategori rendah sekitar 0-50 mm,” ungkapnya.
Dengan adanya dinamika cuaca ini, pria asal Magelang ini mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat muncul mendadak setelah cuaca terik di siang hari, seperti angin kencang maupun hujan lebat.
Baca Juga: El Nino 2026 Berpotensi Capai 80 Persen, BMKG Waspadai Ancaman Karhutla
Meski mulai memasuki musim kering, kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi tetap diperlukan.
‘’Kami juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan mengonsumsi banyak air putih untuk mencegah dehidrasi. Selain itu, masyarakat juga bisa memulai melakukan manajemen sumber daya air sebagai persiapan untuk menghadapi puncak musim kemarau,” tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama