Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

3 Bulan, 32 Kasus Kekerasan Perempuan di Tuban, Didominasi Fisik

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 1 Mei 2026 | 16:00 WIB
Ilustrasi korban kekerasan perempuan. (PINTEREST)
Ilustrasi korban kekerasan perempuan. (PINTEREST)

RADARTUBAN – Alih-alih mereda di tengah gempuran kampanye kesetaraan gender, perempuan di Tuban masih dalam bayang-bayang kerentanan kekerasan fisik dan psikis.

Selama triwulan pertama 2026, misalnya, grafik laporan kekerasan justru menunjukkan tren yang fluktuatif, namun masih mengkhawatirkan.

Berdasar data Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A PMD) Tuban, awal Januari 2026 dibuka dengan 5 kasus laporan.

Angka ini melonjak tajam pada Februari yang mencapai 19 kasus, sebelum akhirnya sedikit melandai di angka 8 kasus pada Maret.

Baca Juga: Kasus KDRT di Tuban Belum Turun, Polisi Catat 30 Laporan Sepanjang 2025

Kepala Dinsos P3APMD Tuban Sugeng Purnomo melalui Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Santi Wijayanti mengungkapkan, angka kekerasan didominasi menunjukkan bahwa kekerasan fisik mendominasi dengan total 10 kasus secara umum.

Disusul dengan angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) fisik yang  lebih tinggi sebanyak 13 kasus. Dilanjutkan oleh kekerasan seksual sebanyak 7 kasus dan KDRT psikis sebanyak 2 kasus.

Santi menyebut, meski saat ini gencar digaungkan kesetaraan gender, hal itu belum cukup kuat untuk membentengi kaum hawa dari tindak kekerasan.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru bisa berubah menjadi ruang yang paling mengancam bagi perempuan. 

‘’Budaya patriarki yang telah lama dianut bisa saja menjadi pemicu. Perempuan masih dicap sebagai makhluk yang lemah, sehingga mereka sangat rentan dan memerlukan perlindungan," tutur Santi kepada Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu.

Fenomena ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, kenaikan angka menunjukkan keberanian korban untuk bersuara, namun di sisi lain juga menjadi cermin kerentanan sosial. Masalah ini sangat kompleks.

Sebab, meski sama-sama kasus kekerasan yang terjadi karena ekonomi, akar masalahnya pasti akan berbeda. Sehingga, penanganannya pun akan berbeda pula.

Selain itu, Santi melanjutkan, edukasi rumah tangga yang gencar dilakukan berbagai pihak juga mulai memberikan keberanian bagi korban untuk melangkah ke jalur hukum atau lembaga perlindungan.

Meski demikian, angka-angka di atas diprediksi hanyalah puncak dari gunung es.

Baca Juga: Kasus KDRT di Tuban Belum Turun, Polisi Catat 30 Laporan Sepanjang 2025

Masih banyak kasus kekerasan yang belum terlaporkan karena berbagai sebab, mulai dari akses informasi, tekanan lingkungan, hingga ketergantungan ekonomi kepada lelaki.

‘’Tanpa perlindungan yang konkret dan penanganan yang spesifik, perempuan akan terus menjadi pihak yang paling dikorbankan,” tandasnya. (saf/tok) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #perempuan #kdrt #kekerasan