RADARTUBAN- Istilah ini memang tak ditemukan dalam buku panduan resmi penyelenggaraan haji. Tidak pula tercantum dalam regulasi Kementerian Haji dan Umrah. Namun, bagi sebagian jemaah, keberadaannya dipahami sebagai solusi atas kebutuhan yang sangat manusiawi.
Kamar Barokah adalah ruang privat yang disiapkan bagi pasangan suami istri untuk melepas rindu di sela rangkaian ibadah. Kebutuhan itu muncul karena selama lebih dari sebulan, banyak pasangan harus menahan diri akibat sistem pemondokan yang tidak memungkinkan privasi.
Di hotel-hotel tempat jemaah menginap di Madinah, satu kamar bisa dihuni empat hingga 14 orang dengan jenis kelamin yang sama. Mereka tidur berdempetan, berbagi ruang tanpa sekat.
Situasi serupa membuat pasangan yang berangkat bersama nyaris tak memiliki kesempatan berbincang, apalagi menikmati kebersamaan secara utuh. Terlebih, setelah memasuki fase ihram di Makkah, ada batas-batas syariat yang tak boleh dilanggar, termasuk hubungan suami istri.
Baca Juga: Setelah Terbang Sembilan Jam ke Tanah Suci, Jemaah Haji Tuban Jaga Kebugaran dengan Senam Peregangan
Di titik itulah Kamar Barokah hadir. Bukan sebagai fasilitas resmi, melainkan hasil kesepahaman antarsesama jemaah.
Kloter 28 jemaah haji asal Tuban, misalnya, menyiapkan kamar petugas sebagai ruang yang nantinya bisa dimanfaatkan. Ketua Kloter 28 Misbahul Munir mengatakan, kamar tersebut belum digunakan karena jemaah baru beberapa hari berada di Madinah. Pengondisian baru akan dilakukan sekitar dua hari sebelum keberangkatan ke Makkah atau sekitar 5-7 Mei.
“Sekarang belum dibutuhkan. Nanti kemungkinan dua hari sebelum berangkat baru kami kosongkan,” ujarnya.
Guru MAN 1 Tuban itu menjelaskan, teknis penggunaannya menyesuaikan kebutuhan. Jemaah yang hendak memanfaatkan harus berkoordinasi dengan petugas kloter. Karena peminat diperkirakan cukup banyak, durasi penggunaan dibatasi maksimal satu jam. “Kalau yang inden banyak ya terpaksa kita undi,” katanya berseloroh.
Munir menyebut Kamar Barokah merupakan kebutuhan yang wajar, meski tidak semua pasangan berani menyampaikan secara terbuka karena rasa sungkan. “Ini semacam sangu bagi jemaah sebelum berangkat ke Makkah, supaya mereka lebih tenang,” tambahnya.
Ketua Kloter 26 Nurul Yaqin Anas mengakui keberadaan Kamar Barokah sudah menjadi kelaziman di musim haji. Hanya saja, hingga kini pihaknya belum membahas penyiapan ruang khusus tersebut.
“Belum dibahas, jadi belum bisa dipastikan kamar mana yang akan dikondisikan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kloter 29 AW Evendi Anwar menuturkan, penyediaan Kamar Barokah juga bisa dilakukan secara mandiri antarsesama jemaah. Kuncinya adalah saling pengertian.
“Yang penting setelah digunakan dibersihkan, tidak acak-acakan,” katanya.
Dia mengakui kebutuhan batin semacam itu cukup besar, terutama bagi pasangan muda.
“Kalau tidak ketemu bisa pusing itu,” gurau Evendi.
Menurutnya, ketenangan batin yang didapat justru dapat membantu jemaah menjalani rangkaian ibadah dengan lebih rileks.
Penelusuran Jawa Pos Radar Tuban menunjukkan, tak semua Kamar Barokah difasilitasi petugas kloter. Sebagian justru lahir dari solidaritas sesama jemaah. Ada yang rela mengosongkan kamarnya sementara dan menyerahkan kunci kepada pasangan yang membutuhkan.
Biasanya, pengondisian dilakukan pada siang hari, saat jeda antarwaktu salat cukup panjang dan banyak jemaah beraktivitas di luar hotel.
Di kamar 216 Kloter 29, guyonan soal Kamar Barokah sempat menghangatkan suasana. Sejumlah jemaah menyatakan siap mengosongkan kamar mereka untuk Abdul Rohman, salah satu jemaah yang berangkat bersama istrinya.
Bagi mereka, Kamar Barokah bukan sekadar soal kebutuhan biologis, melainkan cara sederhana menjaga keutuhan hubungan di tengah perjalanan spiritual yang panjang.
Menanggapi candaan itu, Rohman justru melihatnya dari sudut pandang berbeda.
“Yang menyiapkan kamarnya dapat pahala besar karena membahagiakan orang lain. Saling pengertian memang sangat diperlukan sesama jemaah haji,” tuturnya.
Fenomena ini menunjukkan wajah lain dari ibadah haji. Bahwa di balik ritual yang khusyuk, manusia tetap menjalani fitrahnya.
Di tengah padatnya jadwal ibadah, panjangnya antrean, dan sesaknya pemondokan, ada kebutuhan yang tetap perlu dipahami. Tanpa gaduh. Tanpa sorotan. Cukup satu kamar, satu waktu, dan satu kesepahaman. Di situlah rindu yang lama tertahan menemukan jalannya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni