Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rapor Literasi Tuban Terjun Bebas, Dispersip Sebut Imbas Perubahan Sistem Penilaian Nasional

Shafa Dina Hayuning Mentari • Sabtu, 9 Mei 2026 | 15:19 WIB
PILIH BACAAN: seorang pengunjung tengah mengambil salah satu bacaan di rak buku non-fiksi. (SHAFA DINA MENTARI HAYUNING/RADAR TUBAN)
PILIH BACAAN: seorang pengunjung tengah mengambil salah satu bacaan di rak buku non-fiksi. (SHAFA DINA MENTARI HAYUNING/RADAR TUBAN)

RADARTUBANTingkat kegemaran baca masyarakat Tuban patut menjadi atensi bersama, khususnya bagi pemerintah daerah. Itu menyusul capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Tuban yang terjun bebas.

IPLM Tuban tercatat hanya 12,27 dari target 57,34. Sementara angka TKM berada di level 60,1 dari target 79,25.

Enggan dibilang merosot, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Tuban berdalih bahwa penyebab menurunnya capaian IPLM dan TKM akibat penyesuaian indikator yang jauh lebih kompleks dan mendadak dari Perpustakaan Nasional.

"Ketidaktercapaian target (IPLM dan TKM, red) tahun ini bukan mencerminkan merosotnya minat baca masyarakat secara riil, tapi karena imbas dari pergeseran variabel dan dimensi penilaian yang ditetapkan oleh Perpusnas,’’ kata Kepala Bidang Perpustakaan Dispersip Tuban Masykuri.

Baca Juga: Pendidikan Empati dan Minat Baca: Yang Terlupa dari Peringatan Hardiknas

Menurutnya, imbas pergeseran variabel itu membuat hampir semua kabupaten/kota se-Indonesia mengalami hal serupa. 

Jika pada 2024 kajian IPLM masih menggunakan kategori rendah, sedang, dan tinggi. Di 2025, kategori itu berubah.

"Ada penyesuaian dimensi, variabel, dan indikator baru dalam penghitungan,’’ jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, angka realisasi literasi di Tuban tahun 2025 menunjukkan gap yang lebar dibandingkan target awal. IPLM Tuban hanya tercatat 12,27 dari target 57,34. Sedangkan angka TKM berada di level 60,1 dari target 79,25.

Angka ini berbanding terbalik dengan capaian tahun 2024. Saat itu, TKM Tuban masih nangkring di angka 76,65 dan IPLM sebesar 56,24. 

"Perubahan metodologi ini sangat mendadak dan penilaiannya jauh lebih kompleks. Kami harus menyesuaikan lagi target-target tersebut ke depan agar lebih realistis dengan metode baru," imbuh Masykuri.

Salah satu faktor penting dalam penilaian terbaru ini adalah pembagian kewenangan yang lebih spesifik. Saat ini, terang dia, perpustakaan jenjang SMA telah ditarik menjadi kewenangan provinsi. Praktis, Pemkab Tuban kini hanya memiliki beban penilaian untuk perpustakaan SD hingga SMP, serta perpustakaan umum di tingkat kecamatan, desa, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan perpustakaan khusus.

Mayoritas sampel yang diambil dalam penghitungan berasal dari perpustakaan sekolah. Sedangkan, pengelolaan perpustakaan dasar dan menengah tersebut memang belum seoptimal jenjang SMA.

Baca Juga: Peminjaman Buku Perpusda dan Baca di Tempat Dihentikan Sementara, Ada Kegiatan Stock Opname Koleksi Buku

"Ada enam dimensi yang menjadi kendala dan harus segera diperbaiki. Mulai dari ketersediaan buku non-paket, kualitas pelayanan, sumber daya manusia (SDM) pengelola, kepatuhan administrasi, kelengkapan koleksi, hingga kinerja perpustakaan itu sendiri," urainya.

Masykuri menegaskan, meski secara angka statistik terlihat menurun drastis akibat perubahan sistem, namun posisi literasi Tuban di tingkat regional tidak terlalu buruk. Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, posisi TKM dan IPLM Tuban masih menempati urutan ke-12.

"Kalau secara peringkat, Tuban masih tergolong sedang," kata pejabat eselon III asal Bojonegoro itu.

Menatap tahun depan, pihaknya berkomitmen untuk memaksimalkan enam dimensi penilaian yang masih lemah. Fokus utama adalah melakukan pembinaan intensif ke perpustakaan desa dan sekolah di bawah naungan daerah.

"Target-target pembangunan literasi pun akan disusun ulang dan kami sesuaikan lagi selaras dengan metodologi dari Perpusnas,” pungkasnya. (saf/tok)  

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#TKM #Tuban #dispersip #minat baca #IPLM