Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tradisi Cukur Gundul Jemaah Haji Tuban, Ikhtiar Menjemput Berkah di Tanah Suci

Dwi Setiyawan • Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:11 WIB
KH M. Ahmad Ainul Yakin, pimpinan KBIHU Islahiyah Tuban mencukur gundul salah satu jemaah haji Tuban di kamarnya, Tayeb Hotel Makkah, Jumat (15/5). (DWI SETYAWAN/RADAR TUBAN)
KH M. Ahmad Ainul Yakin, pimpinan KBIHU Islahiyah Tuban mencukur gundul salah satu jemaah haji Tuban di kamarnya, Tayeb Hotel Makkah, Jumat (15/5). (DWI SETYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN-Suara dengung clipper memecah suasana sejumlah kamar pemondokan jemaah haji Tuban di Makkah sejak Selasa (12/5). Satu per satu jemaah laki-laki duduk bersila. Mereka pasrah saat rambut mereka dipangkas hingga plontos. 

Di setiap kamar tamu Allah yang dijadikan eksekusi penggundulan, tak ada kursi pangkas. Seluruh jemaah duduk di lantai. Pemotongan gundul itu juga tanpa cermin besar. Apalagi kain klip atau penutup badan seperti di barbershop.

Yang ada hanya tas plastik bekas wadah nasi katering yang disobek. Tas plastik inilah yang dikalungkan ke leher jemaah untuk menampung rambut-rambut yang berguguran.

Baca Juga: Jemaah Haji Bisa Pinjam Kursi Roda Gratis di Masjidil Haram, Ini Lokasi dan Cara Menggunakannya

Pemangkasnya pun bukan orang sembarangan. Dia adalah KH M. Ahmad Ainul Yakin, pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Umrah (KBIHU) Islahiyah Tuban, yang akrab disapa Gus Mad.

Berbekal clipper di tangan, Gus Mad berkeliling dari kamar ke kamar. Menyambangi para jemaah laki-laki dari kloter 26, 27, 28, dan 30 di Tayeb Hotel Makkah yang menjadi binaannya.

Butuh waktu beberapa hari bagi pimpinan Yayasan Al Islahiyah Tuban itu untuk mencukur seluruh jemaah laki-lakinya yang berjumlah 302 orang dari total 406 jemaah. Jawa Pos Radar Tuban antre mendapat giliran digundul pada Jumat (15/5) sore setelah salat Asar.

Dwi Slamet, salah satu jemaah yang dicukur gundul, mengungkapkan, pencukuran gundul oleh Gus Mad sudah disepakati dengan jemaah ketika manasik.

Dia menyampaikan, pemlontosan tersebut merupakan bagian dari tradisi di KBIHU Al Islahiyah yang diyakini membawa keberkahan.

"Mereka yang dicukur habis memperoleh tiga kali keberkahan. Sedangkan yang hanya memangkas sebagian rambutnya mendapat satu kali keberkahan,’’ ujar jemaah asal Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu.

Dwi juga mengaitkan tradisi tersebut sebagai tabarukan khas NU untuk mencari berkah melalui perantara orang saleh.

Dia meluruskan anggapan bahwa pencukuran tersebut berkaitan dengan tahallul. ‘’Sama sekali tidak berhubungan dengan penanda berakhirnya larangan ihram dalam ibadah haji maupun umrah. Itu karena pencukuran tidak dilakukan setelah sai,’’ tegasnya.

Lebih lanjut Dwi mengatakan, tradisi ini memiliki makna simbol pelepasan diri dari beban dosa. Rambut yang jatuh dianggap sebagai perlambang luruhnya kesalahan-kesalahan masa lalu.

"Mereka yang gundul seperti bayi yang terlahir kembali,” katanya.

Di kalangan santri, Gus Mad dipandang sebagai ulama saleh yang dihormati karena kedalaman ilmu agamanya. KBIHU yang dipimpin juga dipandang mendatangkan keberkahan.

Hal itu tak lepas dari amanah KH Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang, Rembang kepada Gus Mad untuk mendirikan KBIHU tersebut pada 2004.(ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#tradisi cukur gundul #Tuban #tanah suci #jemaah haji tuban