RADARTUBAN – Seperti pepatah Jawa: sepi ing pamrih, rame ing gawe. Itulah “kontribusi” Polri dalam menjalankan program ketahanan pangan nasional.
Pasalnya, tidak pernah terdengar kabar aparat melakukan penyuluhan terhadap petani hutan, atau hadir di tengah petani saat awal tanam.
Namun, tiba-tiba mendapat pujian setinggi langit dari Presiden Prabowo atas keberhasilannya dalam mengelola ribuan hektare lahan Perhutani. Termasuk ratusan hektare di wilayah Tuban.
Lantas, benarkah aparat berperan aktif atas hasil panen petani jagung yang Sabtu (16/5) lalu? Hingga dibutkan acara seremonial bertajuk Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026 secara besar-besaran di area pesanggem Dusun Bribin, Desa Tuwiriwetan, Kecamatan Merakurak yang dihadiri langsung Presiden Prabowo.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Presiden Prabowo di Tuban, Agenda Peresmian Dapur MBG dan Panen Jagung
Jaswadi, pesanggem atau petani hutan yang lahannya dijadikan lokasi kegiatan panen raya, mengaku tidak pernah menerima bantuan apa pun dari kepolisian. Jangankan bantuan, pembinaan pun tidak pernah.
Pesanggem asal Dusun Tileng, Desa Talun, Kecamatan Montong ini sudah menggarap lahan persil milik Perhutani sudah lebih dari sepuluh tahun. Dan selama itu pula tidak pernah ada semacam kerja sama dengan pihak aparat negara.
Dari proses pembukaan lahan, menanam, merawat, hingga panen, semuanya dilakukan sendiri. Tidak ada campur tangan polisi.
‘’Seingat saya, dulu pernah ada dari TNI, tapi itu sudah lama sekali (berarti tidak ada kaitannya dengan kegiatan panen raya). Kalau dari polisi tidak pernah ada (semacam kegiatan bersama, red). Bantuan atau pembinaan juga tidak ada,’’ katanya kepada awak media saat ditemui di rumahnya kemarin (19/5).
“Keakraban” Jaswadi dengan aparat baru dimulai menjelang acara seremonial bertemakan panen raya tersebut. Itu pun karena area garapannya dijadikan lahan parkir.
Saking ikut sibuknya menyambut kedatangan RI 1, dirinya dan beberapa petani pesanggem lain tidak bisa fokus kerja. Bahkan, lahan ratusan meter persagi yang menjadi garapannya turut diratakan menggunakan alat berat demi dijadikan area parkir kendaraan pejabat.
Dan yang membuat dirinya tidak habis pikir, adalah aksi pengurukan lahan menggunakan semen reject demi memadatkan tanah.
Praktis, kini dirinya hanya bisa menepuk jidat sembari menunggu langkah normalisasi lahan dari pihak terkait. Sebab, jika tidak dilakukan normalisasi, maka lahan tersebut tidak bisa ditanami lagi.
Meski lahan tersebut adalah lahan Perhutani atau milik negara. Namun, dirinya sudah menyewa dan menggarap lahan tersebut bertahun-tahun.
‘’Saya sebenarnya tidak masalah, bahkan malah senang, (lahan kami dijadikan kegiatan panen raya yang dihadiri Presiden Prabowo, red). Toh itu juga tanah milik negara, tapi saya tidak menyangka sampai ada alat berat dan diuruk menggunakan semen. Saya sangat kaget, apalagi juga tidak diberi tahu sebelumnya,’’ keluh pesanggem yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) itu.
Baca Juga: Dari Soekarno hingga Prabowo, Pandangan Presiden Indonesia soal Dolar Tuai Perhatian Luas Publik
Sebagaimana klaim Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026 berlokasi di 36 Polda seluruh Indonesia dengan total luasan lahan panen sebanyak 189,7 ribu hektare.
Dari jumlah tersebut, area Polda Jatim tercatat yang paling luas, yakni 43,2 ribu hektare. Adapun luas lahan panen di Tuban mencapai 101,5 hektare. Dari total luasan tersebut, hasil panen jagung dari Tuban diperkiraan mencapai 609 ton.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis tadi malam, Kapolres Tuban AKBP Alaiddin yang dikonfirmasi wartawan koran ini selama dua hari terakhir tak kunjung memberikan jawaban. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama