Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Satu Jemaah Haji Tuban Dilarikan ke RS, Dua Lemas, Terowongan Mina Diwaspadai karena Kadar Oksigen Rendah

Dwi Setiyawan • Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:05 WIB
Abdurahman, jemaah haji Tuban yang lemas dan napasnya sesak saat perjalanan menuju jamarot pada Jumat (29/5) pagi, terpaksa dibawa balik tenda dengan kursi roda. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Abdurahman, jemaah haji Tuban yang lemas dan napasnya sesak saat perjalanan menuju jamarot pada Jumat (29/5) pagi, terpaksa dibawa balik tenda dengan kursi roda. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Ujian berat dihadapi jemaah haji Tuban di Mina. Sejumlah tamu Allah kondisinya drop. Salah satunya terpaksa dilarikan ke klinik sektor di Mina untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Jemaah tersebut, Roikanah, 70, yang tergabung di kloter SUB 29.

Dia dijemput ambulans di tendanya markaz 60 pada Kamis (28/5) sekitar pukul 20.10 WAS atau 00.10 WIB. ‘’Setelah mengobservasi, kita pertimbangkan untuk merujuk yang bersangkutan,’’ ujar Ririn Puji Rahayu, dokter kloter tersebut.

Kabarnya, sekarang ini jemaah asal Desa Tanjungrejo, Kecamatan Singgahan tersebut dirujuk ke salah satu rumah sakit di Mina. Kabarnya, kondisi Roikanah memburuk karena tidak doyan makan sejak tiba di Madinah.

Turunnya nafsu makan juga dialami sejumlah jemaah lain.  Hanya saja, kondisi mereka tidak begitu mengkhawatirkan. Dua jemaah lain dari kloter yang sama mendapat penanganan darurat pada Jumat (29/5) pagi setelah terkulai lemas.

Baca Juga: Jemaah Haji Tuban Dijadwalkan Tiba di Tanah Air Mulai 8 Juni

Jemaah pertama terkulai dengan napas sesak saat perjalanan menuju jamarot. Jemaah ini akhirnya dibopong di area emergensi setelah melewati terowongan pertama Mina. 

Di area inilah, jemaah yang bernama Abdurahman, 55, mendapat penanganan pertama dari tim medis kloter. Setelah kondisinya mulai membaik, jemaah asal Desa Medalem, Kecamatan Senori ini dibawa kembali ke tenda setelah mendapat pinjaman kursi roda. 

Satu jemaah bernama Laili, 50, warga Desa Laju Kidul, Kecamatan Singgahan pingsan di tengah perjalanan pulang dari jamarot. Diperkirakan, dia mengalami kecapekan.

Sakitnya dua jemaah ini diduga kuat karena memaksakan menjalankan ritual wajib haji tersebut. Mereka yang fisiknya tidak cukup kuat tersebut berusaha mengikuti lempar jumrah ula, wustha, dan aqoba. Kemarin, jarak ketiga jamarot tersebut untuk trip berangkat dan pulang sekitar 9 km dari tenda. Jarak yang dihitung dengan aplikasi pengukur langkah tersebut bisa berubah setiap hari. Itu karena polisi Mina kerap memberlakukan blokade jalan dan mengalihkan alur perjalanan yang tiap hari dijejali jutaan jemaah dari seluruh negara. 

Jemaah haji reguler dari Indonesia, termasuk Tuban melontar jumrah di lantai tiga. Sementara empat lantai lain untuk jemaah dari negara lain dan jemaah haji plus.

Jauhnya perjalanan jemaah haji reguler kian berat karena terik matahari yang menyengat. Di pagi hari sekitar pukul 07.00 sampai 09.00 saja, suhu udara Mina mencapai sekitar 37 derajat Celsius. Siang hari, suhu udara bisa mencapai 47 derajat Celsius.

Tantangan terberat berikutnya ketika melintasi terowongan Mina yang kondisinya setengah tertutup. Kadar oksigen cukup rendah karena dihirup banyak orang di dalamnya,’’ kata AW Evendi, ketua kloter SUB 29. Karena itu, di titik ini banyak jemaah pingsan dan lemas karena asupan oksigen ke otak berkurang. Terlebih, bagi mereka yang kondisinya tidak sehat. Termasuk Abdurahman yang pingsan di tengah terowongan.(ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#terowongan mina #mina #jemaah haji tuban