Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Solar Langka Lagi, Sopir di Tuban Rela Antre Berjam-jam demi BBM

Andreyan (An) • Selasa, 2 Juni 2026 | 14:02 WIB
Antrean mengular para sopir kendaraan muatan berat di SPBU Tegalbang, Kecamatan Semanding, kemarin (1/6). (ANDREYAN/RADAR TUBAN)
Antrean mengular para sopir kendaraan muatan berat di SPBU Tegalbang, Kecamatan Semanding, kemarin (1/6). (ANDREYAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN – Pertamina hampir tidak pernah mengakui adanya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), termasuk jenis solar. Namun, fakta di lapangan sering kali kontradiktif dengan pernyataan Pertamina.

Dalam sepekan terakhir ini, misalnya, pengguna kendaraan bahan bakar solar kembali kelimpungan menyusul stok solar di sejumlah SPBU tiba-tiba amblas. Sekali tersedia, ratusan kendaraan langsung mengular hingga ke jalan-jalan.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tuban di sejumlah SPBU, kemarin (1/6), truk dan kendaraan barang tampak mengantre sejak pagi hingga siang. Bahkan tak sedikit beberapa sopir yang harus berpindah SPBU ke SPBU lain lantaran tak kedapatan solar.

‘’Sudah dari pagi antre, sampai sekarang ini belum dapat. Sebelumnya sudah dua SPBU yang saya kunjungi tapi hasilnya zonk,’’ ungkap Karnadi, sopir material asal Kecamatan Semanding.

Baca Juga: Solar Subsidi untuk Tuban Sempat Disebut Habis, tapi SPBU Sleko Masih Layani dengan Antrean Panjang

Disampaikan olehnya, kelangkaan solar semakin bertambah buruk dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya, waktu kerjanya banyak tersita untuk mengantre berjam-jam di SPBU. ‘’Hampir separo hari habis buat mengantre, pendapatan jelas turun,’’ tutur dia.

Disampaikan Karnadi, sulitnya mencari solar di Tuban sudah beberapa kali terjadi, dirinya menyayangkan lambatnya pihak terkait menangani persoalan ini. ‘’Di media sering bilang katanya stok aman, nyatanya cuman omon-omon,’’ kata dia.

Keluhan serupa juga dialami Suwanto, sopir kendaraan muatan barang asal Kabupaten Sidoarjo. Kondisi tersebut menjadi pukulan telak baginya maupun sopir-sopir lainnya yang menggantungkan penghasilan harian dari kendaraan yang dioperasikan.

‘’Orang tahunya barang harus sampai, mereka tidak tahu kalau kami antre berjam-jam bahkan muter-muter nyari solar. Ongkos bengkak di perjalanan, sementara penghasilan tetap sama,’’ keluh sopir paro baya itu.

Lebih lanjut, dia menyayangkan banyaknya pihak yang justru memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan. Salah satunya dengan membeli solar menggunakan jirigen besar. ‘’Entah untuk konsumsi pribadi atau dijual kembali, praktik seperti itu sangat merugikan sopir-sopir lainnya yang juga membutuhkan solar dan akhirnya malah tidak kebagian,’’ tegasnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga Ahad Rahedi hanya melontarkan kalimat normatif saat dikonfirmasi wartawan koran ini ihwal fenomena antrean mengular di sejumlah SPBU di Tuban. ‘’Akan kami cek dahulu ke tim lapangan,’’ ujar dia.

Jawaban tersebut mengisyaratkan para pejabat tinggi dan berwenang di Pertamina Patra Niaga tak mengetahui secara pasti apa yang terjadi di lapangan. Terutama mengenai fenomena kelangkaan solar yang sudah berlangsung sepekan. (an/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#bbm #Tuban #solar #SPBU