RADARTUBAN – Merasa di-PHP oleh DPRD. Kemarin (2/6), paguyuban becak dan pedagang kaki lima (PKL) di Parkir Wisata Kebonsari meluruk gedung dewan.
Mereka menuntut penyelesaian shuttle atau kendaraan pengumpan dan becak motor (bentor) Wisata Sunan Bonang, serta mengembalikan status Parkir Kebonsari sebagai terminal utama kendaraan peziarah Sunan Bonang yang dijanjikan DPRD sejak enam bulan lalu.
Dalam orasinya, ratusan pedagang dan tukang becak yang beroperasi di Parkir Wisata Kebonsari itu merasa kecewa lantaran aspirasinya tidak ditindaklanjuti oleh DPRD. Mereka membentangkan sejumlah poster yang berisikan tuntutan terhadap legislatif.
Perwakilan paguyuban becak, Sukamto mengaku kecewa terhadap DPRD karena tidak serius mengawal aspirasi mereka. Tuntutan yang dititipkan ke wakil rakyat seakan menguap begitu saja.
Baca Juga: Dua Bulan Puncak Kunjungan, Wisata Makam Sunan Bonang Kini Melandai Jelang Ramadan
Tanpa hasil dan tanpa langkah konkret apa pun dari DPRD. ‘’Hanya janji-janji saja, tapi faktanya kami semakin menderita. Program-program yang dijanjikan pemerintah daerah tidak ada jeluntrung,’’ ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Sukamto mewakili paguyuban becak dan PKL Parkir Wisata Kebonsari mendesak kepada pemerintah daerah dan DPRD untuk segera menyelesaikan persoalan yang menyangkut hajat hidup pebecak dan pedagang tersebut.
‘’Tuntutan kami jelas: hapus shuttle dan becak motor yang beroperasi secara ilegal,’’ tegasnya.
Sementara itu, koordinator pedagang di Parkiran Wisata Kebonsari, Teguh Suyono mengaku, sejak mobil pengumpan dan becak motor mengangkut peziarah secara “ilegal”, pendapatan para PKL menurun drastis.
‘’Dalam sehari, kita terkadang hanya dapat pendapatan Rp 70 ribu. Padahal, modal yang kita keluarkan untuk jualan makanan mencapai ratusan ribu. Kalau tidak laku biasanya kita buang,’’ katanya.
Di hadapan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP), Satlantas Polres Tuban, Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP Damkar), dan beberapa dinas lain, perwakilan pebecak dan pedagang meminta agar shuttle dan bentor segera dihentikan.
‘’Tadi sudah disepakati bersama, shuttle dan bentor akan dihentikan, dan semua bus peziarah masuk ke Parkiran Wisata Kebonsari,’’ ujarnya dan berharap tidak sekadar janji.
Namun, tegas dia, jika apa yang disampaikan kemarin tidak jauh beda dari janji-janji sebelumnya, dia bersama pedagang lain mengancam bakal menggelar aksi yang lebih besar.
Menanggapi tuntutan pebecak dan pedagang, Kanit Turjawali Satlantas Polres Tuban Febri berdalih bahwa selama ini sudah melakukan penindakan terhadap bentor.
Bahkan, terang dia, beberapa kali sudah ditindak. Termasuk ketika mendapati kendaraan shuttle tidak sesuai rute, juga ditindak.
Baca Juga: Ditolak Tukang Becak Sunan Bonang, Sopir Shuttle: Kami Juga Mencari Makan
Sementara itu, Kepala DLHP Tuban Anthon Tri Laksono menyampaikan permintaan maaf karena selama ini belum mampu menata angkutan wisata. ‘’Sebenarnya penertiban sudah dilakukan bersama aparat kepolisian dan masih terus berjalan hingga saat ini,’’ ujarnya.
Namun, terang dia, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam melakukan penertiban. Dibutuhkan kolaborasi lintas instansi serta dukungan seluruh pihak terkait. ‘’Harapannya, bus peziarah tetap masuk ke terminal wisata, jangan dihentikan di tengah jalan,’’ jelasnya.
Anthon berdalih, penertiban kendaraan pengumpan dan bentor sebenarnya sudah berhasil, namun setelah itu muncul lagi, dan begitu seterusnya. ‘’Ini memang jadi problem bersama,’’ pungkasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama