RADARTUBAN – Publik benar-benar tidak habis pikir dengan pernyataan Pertamina yang sampai saat ini masih keukeuh mengklaim bahwa tidak ada kelangkaan solar di wilayah Tuban.
Terlebih, dalih tersebut didasarkan pada klaim distribusi yang dipastikan aman dan lancar.
‘’Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan. Ketersediaan stok BBM di wilayah Tuban dipastikan aman. Proses pengiriman juga tidak ada gangguan,’’ kata Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi.
Baca Juga: OpenAI Luncurkan Lockdown Mode, Fitur Baru untuk Lindungi Data Sensitif di ChatGPT
Padahal, kondisi di lapangan menunjukkan fakta sebaliknya. Para sopir dan nelayan di Tuban terpaksa pontang-panting demi mendapatkan solar subsidi.
Bahkan, ratusan nelayan terpaksa tiarap lantaran tidak ada bahan bakar yang digunakan.
‘’Ra masuk akal, kondisi koyok ngene angele golek solar kok isek ngomong aman. Wes ra masuk akal blas (sudah tidak masuk akal, kondisi seperti ini kok masih bisa aman. Benar-benar sudah tidak masuk akal,’’ ujar Arif, salah satu nelayan asal Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban dengan nada kesal yang membuncah.
Sementara itu, di saat nelayan kesulitan mencari solar, Pertamina Patra Niaga malah menutup SPBU Dasin di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu.
Padahal, sebagian nelayan juga mengandalkan dari SPBU di jalur pantura tersebut.
Dalam banner yang terpampang di pintu masuk SPBU, pasokan solar dihentikan distribusinya sepanjang bulan ini atau terhitung mulai 1-30 Juni.
Tapi anehnya, Pertamina tidak memberikan penjelasan secara detail terkait keputusan tersebut.
‘’SPBU tersebut dibina berdasarkan tindak lanjut hasil pengecekan karena ditemukan adanya layanan yang tidak sesuai dengan SOP penyaluran produk solar,’’ kata Ahad Rehadi. Namun, saat ditanya SOP seperti apa yang dilanggar oleh pihak SPBU, dia enggan menjawab. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama