RADARTUBAN - Setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji, sebagian jemaah haji Indonesia memiliki tradisi yang tidak tertulis, namun tetap hidup dari tahun ke tahun.
Yakni, mengganti atau menambahkan nama panggilan baru. Tradisi itu juga dijumpai di kalangan jemaah haji asal Tuban yang saat ini bersiap meninggalkan Makkah untuk kembali ke Tanah Air.
BAGI sebagian jemaah, nama baru tersebut bukan sekadar panggilan. Di baliknya tersimpan harapan akan keberkahan, doa, sekaligus penanda perubahan spiritual setelah menyandang gelar haji.
Tradisi itu dikenal sebagai bagian dari tabarukan, yakni ikhtiar mencari dan mengharapkan tambahan kebaikan dari Allah SWT melalui perantara orang-orang yang dimuliakan.
Baca Juga: Jemaah Haji Tuban Mulai Tinggalkan Makkah Minggu, Empat Jamaah Masih Dirawat di Rumah Sakit
Salah seorang jemaah Kloter SUB 26, Slamet Dwiyanto, misalnya, sengaja meminta nama panggilan baru kepada pembimbing KBIHU Islahiyah Tuban, KH Muhammad Ahmad Ainul Yaqin (Gus Mad). Dari permintaan tersebut lahirlah nama panggilan Haji Abdussalam.
‘’Saya sudah minta nama panggilan kepada Gus Mad. Beliau memberi nama Haji Abdussalam yang artinya selamat atau slamet,” ujar Slamet.
Nama tersebut diambil dari makna nama depannya. Dalam bahasa Arab, “Abdussalam” berarti hamba Yang Maha Memberi Keselamatan.
Fenomena serupa juga terjadi pada jemaah lain. Matari, warga Kedungsoko, Kecamatan Plumpang, mendapat usulan nama panggilan Haji Matori yang bermakna hujan.
Sementara Sukoyo yang dalam bahasa Jawa dapat dimaknai kaya, diusulkan menggunakan nama Haji Abdul Ghoni yang berarti orang yang berkecukupan atau kaya.
Tradisi memberi nama baru tidak selalu berlangsung serius. Di sela padatnya aktivitas ibadah dan persiapan kepulangan, nama-nama baru sering muncul dalam suasana penuh canda.
Di Kloter SUB 29, Hartini, jemaah asal Desa Selogabus, Kecamatan Parengan, misalnya, diusulkan teman-temannya menggunakan nama Hajjah Hania yang berarti perempuan yang lembut, menyenangkan, dan penuh kasih.
Usulan itu justru mengundang gelak tawa anggota rombongannya. Sebab, karakter Hartini selama perjalanan haji dikenal lincah, energik, dan ceplas-ceplos.
“Yang sesuai hanya sifatnya yang menyenangkan, periang, dan tidak pernah sedih,” ujar Djarwo Sandi, Ketua Regu 16 Rombongan 4.
Jemaah lain, Yayuk, warga Desa Sembung, Kecamatan Parengan, juga mendapat usulan nama Hajjah Uhibbu. Nama itu dipilih karena memiliki makna yang kurang lebih sejalan dengan sebutan Yayuk atau Yuyu dalam budaya Jawa, yakni anak perempuan yang disayang.
Baca Juga: Jelang Kepulangan, Jemaah Haji Tuban Diminta Patuhi Aturan Bagasi dan Barang Bawaan
Menjelang jadwal kepulangan ke Indonesia, nama-nama panggilan baru terus bermunculan. Sebagian lahir melalui permintaan kepada para kiai dan pembimbing ibadah, sebagian lagi muncul dari kreativitas sesama jemaah.
Tak sedikit pula yang bernuansa humor. Jarno, misalnya, diusulkan dengan panggilan Haji Da’hu. Dalam bahasa Arab, kata tersebut dapat dimaknai “biarkan”, sejalan dengan arti nama Jarno dalam penafsiran bahasa Jawa.
Sementara Kismo diusulkan menjadi Haji Qodar karena memiliki makna yang dekat dengan takdir atau ketentuan.
KH Muhammad Ahmad Ainul Yaqin, pembimbing KBIHU Islahiyah Tuban mengatakan, sebagian jemaah hanya meminta tambahan nama Ahmad atau Muhammad. Namun, ada pula pola lain yang sering digunakan.
Untuk jemaah laki-laki, kata dia, nama panggilan dapat ditambah dengan penggalan nama ibunya. Sebaliknya, jemaah perempuan dapat menggunakan penggalan nama ayahnya.
“Misalnya Sulaiman yang ibunya bernama Fulan. Nama panggilannya menjadi Haji Fusulaiman. Ini hanya nama panggilan hajinya, bukan mengganti nama,” ujar Gus Mad.
Pembimbing KBIHU Arroudloh Tuban, KH Khafid, menuturkan bahwa pemberian nama panggilan baru sepenuhnya dilakukan atas permintaan jemaah. Bahkan, pada musim-musim haji sebelumnya, ada jemaah yang menggelar syukuran kecil atau selamatan di pemondokan setelah memperoleh nama baru.
“Untuk sementara sampai sekarang belum ada permintaan,” ujarnya.
Menurut Kiai Khafid, tidak semua jemaah tertarik mengikuti tradisi tersebut. Sebagian memilih tetap menggunakan nama yang selama ini melekat pada dirinya.
Alasannya beragam. Salah satunya karena khawatir memiliki dua nama panggilan justru membingungkan keluarga dan lingkungan sekitar.
Meski demikian, tradisi pemberian nama baru tetap menjadi warna tersendiri dalam perjalanan spiritual jemaah haji. Di tengah kerinduan pulang ke Tanah Air, nama-nama baru itu menjadi simbol harapan agar keberkahan ibadah haji terus melekat dalam kehidupan mereka setelah kembali ke kampung halaman.(ds)
Editor : Yudha Satria Aditama