Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tingginya Pernikahan Dini di Tuban, 24 dari 100 Perempuan Punya Anak di Usia Remaja

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 16 Juni 2026 | 16:27 WIB
Fenomena pernikahan dini di Tuban masih tinggi, kehamilan remaja meningkatkan risiko komplikasi, stunting, hingga depresi pascamelahirkan. (RADAR TUBAN)
Fenomena pernikahan dini di Tuban masih tinggi, kehamilan remaja meningkatkan risiko komplikasi, stunting, hingga depresi pascamelahirkan. (RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Maraknya pernikahan dini di Tuban terafirmasi dengan tingginya indikator perempuan yang melahirkan anak pertama di usia kurang dari 20 tahun (MHPK20). Tercatat, sekitar 25 persen perempuan di Tuban memiliki anak pertama di usia remaja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, meski angka indeks ketimpangan gender pada dimensi kesehatan reproduksi ini dilaporkan turun dari 0,251 pada 2024 menjadi 0,239 di 2025.

Namun, angka tersebut dinilai masih mengkhawatirkan. Sebab, 24 dari 100 perempuan di Tuban tercatat memiliki anak pertama di usia remaja. Potret ini merupakan indikator masih maraknya praktik pernikahan dini sekaligus minimnya edukasi seksualitas sehat di masyarakat.

Baca Juga: Kisah Pemimpin Perempuan Malawi yang Berhasil Batalkan Ratusan Pernikahan Anak

Ketua Tim Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Tuban Arif Suroso mengatakan, fenomena perempuan yang melahirkan anak pertama di usia remaja ini terjadi di antara dua kutub kondisi, yaitu antara terpaksa atau karena dipaksa.

Kedua faktor ini mengakar kuat pada persoalan pergaulan bebas maupun pola pikir sebagian masyarakat yang masih tradisional.

Arif menjelaskan, kondisi terpaksa erat kaitannya dengan persoalan kehamilan terlebih dahulu di usia sekolah.

Kondisi ini membuat pasangan muda tidak memiliki pilihan lain selain melangsungkan pernikahan darurat dan akhirnya melahirkan di usia dini. Sementara kondisi dipaksa, lahir dari dogma tradisional keluarga atau lingkungan sekitar.

‘’Ada persepsi keliru yang masih banyak dianut di masyarakat, bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi,’’ katanya.

Sudut pandang inilah yang memaksa atau mendorong anak-anak perempuan kita untuk segera menikah dan akhirnya melahirkan di usia remaja. 

Dia melanjutkan, kondisi melahirkan anak pertama di usia remaja tersebut juga berkorelasi dengan menurunnya partisipasi perempuan pada dunia pendidikan.

Di mana, partisipasi kaum hawa dengan pendidikan minimal SMA juga ikut menurun sebanyak 3,14 poin dari tahun 2024 yang sebesar 23,43 menjadi 20,29 pada 2025.

‘’Karena jika perempuan sudah memiliki anak di usia remaja, maka otomatis dia juga akan putus sekolah,” tuturnya.

Bukan hanya dari permasalahan sosial yang timbul akibat fenomena dipaksa atau terpaksa yang membuat perempuan remaja kehilangan masa mudanya, tetapi juga faktor kesehatan yang mengintai bagi mereka yang memiliki bayi diusianya yang masih muda.

Dokter Spesialis Kandungan Rumah Sakit Muhammadiyah Tuban dr. Ratna Ernawati, Sp.OG mengingatkan, secara biologis tubuh remaja di bawah usia 20 tahun belum matang sempurna untuk mengandung.

Proses pematangan masih berjalan pada organ reproduksi, ukuran panggul, kecukupan gizi, hingga kesiapan hormonal dan psikologis.

Baca Juga: Tender Sempat Dapat Pemenang, Pembangunan Waduk Jabung Ring Dyke Tuban Mendadak Dibatalkan

‘’Kehamilan remaja otomatis masuk kategori risiko tinggi,’’ katanya. Akibatnya, komplikasi pada ibu muda sangat sering ditemukan, mulai dari preeklamsia dan eklamsia, anemia karena kebutuhan zat besi tinggi, persalinan prematur, ketuban pecah dini, hingga infeksi selama kehamilan maupun nifas. 

Selain itu, lanjut dia, kondisi panggul yang belum optimal untuk melahirkan juga berisiko memicu persalinan lama atau macet yang berujung pada lonjakan angka kematian pada ibu.

‘’Riset medis mencatat, risiko preeklamsia pada remaja bisa meningkat hingga 1,5 sampai 2 kali lipat dibanding usia matang,’’ jelasnya. Karena itu, setiap kehamilan pada usia remaja memerlukan pemantauan antenatal yang lebih ketat untuk mendeteksi tanda-tanda preeklamsia sejak dini. 

Ancaman fatal ini, terang dokter yang juga menjabat sebagai Direktur RS Muhammadiyah Tuban itu, membawa dampak negatif terhadap janin yang dikandung.

Sebab, bayi dari ibu usia belia berisiko tinggi mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), gangguan pernapasan, pertumbuhan janin terhambat, hingga kematian neonatal yang lebih tinggi dibanding bayi dari ibu usia 20–24 tahun. 

Dampak jangka panjangnya pun sangat berbahaya, kehamilan usia dini berkorelasi dengan tingginya angka stunting.

Namun, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menegaskan, bahwa kehamilan remaja bukan penyebab langsung stunting, melainkan meningkatkan faktor-faktor risiko yang berujung pada stunting.

‘’Ibu usia remaja lebih sering mengalami anemia dan kekurangan energi kronis, bayi lebih berisiko lahir prematur, kondisi ekonomi yang masih belum stabil, hingga kurangnya pengetahuan pentingnya pemberian ASI dan MPASI,” beber Ratna.

Semua faktor tersebut, Ratna mengungkapkan, merupakan determinan penting stunting. Oleh karena itu, pencegahan kehamilan remaja menjadi salah satu strategi dalam penurunan angka stunting.

Tak hanya fisik, kondisi mental ibu usia remaja juga dipertaruhkan. Secara umum, dokter Ratna menjelaskan, remaja belum memiliki kematangan emosional yang sama dengan wanita dewasa. Banyak yang masih berada pada fase pencarian identitas diri, pendidikan belum selesai, dan ketergantungan ekonomi kepada orang tua masih tinggi.

Baca Juga: Ketimpangan Gender di Tuban Kembali Naik, Pendidikan Perempuan Jadi Pemicu Utama

Akibatnya, mereka akan mengalami kecemasan selama masa kehamilan, ketakutan menghadapi persalinan, stres selama pengasuhan bayi, hingga Perasaan kehilangan masa remaja.

‘’Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu remaja memiliki risiko depresi postpartum yang lebih tinggi dibanding ibu dewasa,” paparnya.

Sebagai langkah preventif, Ratna mendesak penguatan komunikasi keluarga dan pemenuhan hak anak untuk tetap bersekolah. Menurutnya, pencegahan yang paling efektif bukan hanya melarang, tetapi membangun pemahaman dan masa depan remaja.

‘’Jangan terburu-buru menjadi orang tua saat berada di masa terbaik membangun masa depan,’’ tegasnya. Sebab, menunda kehamilan sampai usia matang bukan berarti menunda kebahagiaan, melainkan mempersiapkan diri untuk melahirkan generasi yang jauh lebih sehat dan berkualitas. (saf/tok) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pernikahan dini #asi #bps