RADARTUBAN- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Tuban. Biaya distribusi yang meningkat berdampak pada harga bahan pangan di pasar tradisional. Terutama komoditas yang bergantung pada pasokan dari luar daerah maupun impor.
Salah satu lonjakan paling mencolok adalah bawang putih. Dalam dua pekan terakhir, harga komoditas tersebut melonjak dari sekitar Rp 28 ribu menjadi Rp 37 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram (kg). Padahal, sebelumnya harga bawang putih relatif stabil.
Khoirun Nisa, salah satu pedagang di Pasar Pramuka Tuban mengatakan, sebagian besar bawang putih yang beredar di pasaran merupakan produk impor dari China. Jenis yang banyak diperjualbelikan jenis sinco.
Menurut dia, kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan dapur tidak terlepas dari meningkatnya harga minyak dunia yang berdampak pada biaya produksi dan distribusi. Akibatnya, beban kenaikan biaya tersebut ikut dirasakan pedagang hingga konsumen. “Kenaikan harga ini otomatis jadi efek domino yang bebannya sampai ke pedagang dan konsumen,” katanya.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Tuban Melonjak, Bawang Merah Tembus Rp 52 Ribu per Kilogram
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tuban dalam 14 hari terakhir, harga minyak goreng premium relatif stabil di kisaran Rp 23 ribu hingga Rp 24 ribu per liter. Beras medium mengalami kenaikan tipis dari Rp 12.935 menjadi Rp 13.000 per kg. Sementara itu, harga beras premium naik dari Rp 14 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram. Adapun harga telur ayam ras masih bertahan di angka Rp 25 ribu per kg.
Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, bawang merah justru mengalami penurunan harga. Komoditas tersebut turun dari Rp 52 ribu menjadi Rp 43 ribu per kilogram. Melimpahnya pasokan dari petani lokal menjadi faktor utama yang menahan laju harga. “Bawang merah turun karena dari tingkat petani lokal dan stoknya cukup. Berbeda dengan bawang putih yang impor,” kata Nisa.
Pedagang lainnya, Hariyono, menyampaikan, pergerakan harga komoditas hortikultura, terutama cabai masih sangat fluktuatif. Harga cabai dapat berubah dalam waktu singkat bergantung pada pasokan dan kondisi pasar.
“Cabai memang harganya paling sensitif, mudah naik dan turun dalam waktu singkat. Bisa jadi hari ini Rp 60 ribu, besoknya bisa turun drastis atau malah melonjak lagi,” ujarnya.
Menurut Hariyono, kenaikan biaya angkut akibat penyesuaian tarif BBM menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga kebutuhan pokok di tingkat pedagang.
“Untuk biaya operasional dan angkutan saja sudah naik. Jadi ya harga barangnya otomatis ikut terdampak kondisi saat ini,” katanya.
Meski belum seluruh komoditas mengalami kenaikan tajam, gejolak harga mulai dirasakan masyarakat. Jika biaya distribusi terus meningkat, tekanan terhadap harga pangan dikhawatirkan semakin meluas dalam beberapa waktu ke depan.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban Gunadi membenarkan kenaikan harga bawang putih. Menurut dia, kenaikan tersebut bukan karena kenaikan harga BBM baru-baru ini.
‘’Jika karena kenaikan harga BBM, maka semua bahan pokok seharusnya seragam mengalami kenaikan. Yang naik saat ini hanya bawang putih. Bawang merah turun dan lainnya stabil,” tuturnya.
Berdasar catatan instansinya, kata dia, kemarin bawah putih mengalami kenaikan harga Rp 2 ribu per kg menjadi Rp 39.800 dibandingkan Selasa. Sedangkan bawang merah mengalami penurunan seribu rupiah.
Menurut Gunadi, harga bawang putih tersebut masih dalam batas wajar jika dibandingkan dengan cabai rawit merah yang berada di angka Rp 60 ribu per kg. Dia menyebut harga acuan penjualan (HAP) bawang putih Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu.
Karena termasuk produk impor, menurut mantan kepala Satpol PP-Damkar Tuban ini seharusnya justru lebih murah dan bukan malah mahal. ‘’Meski demikian, kami tetap antisipasi. Tim kami kemarin juga turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan. Jika dirasa ada kenaikan lebih tinggi, pasti kami cari solusinya,” tegasnya.(saf/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni