RADARTUBAN - Pemadaman listrik secara bergilir di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Tuban diprediksi masih akan berlanjut hingga beberapa hari, bahkan beberapa pekan ke depan. Itu menyusul tidak adanya kepastian dari PLN terkait batas waktu pemadaman bergilir tersebut.
Kemarin (18/6) misalnya, pemadaman bergilir menyasar sejumlah desa di Kecamatan Jenu, Rengel, Widang, serta beberapa kecamatan lain. ‘’Yang tadi pagi di Kecamatan Jenu, termasuk KIT (Kawasan Industri Tuban), lalu di Rengel, kemudian dari Pakah hingga Widang juga terkena pemadaman, dan sampai sekarang masih berlangsung,’’ kata Manajer Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Tuban Baskoro Ocky Widakdo saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban kemarin sore sekitar pukul 15.30.
Disinggung penyebab pemadaman bergilir tersebut, Baskoro menyampaikan, pemadaman secara bergantian dalam sepekan terakhir ini tidak ada kaitannya dengan gangguan teknis di lapangan. Beda dengan insiden pemadaman sebelum-sebelumnya yang dipicu faktor alam dan kerusakan jaringan listrik seperti trafo terbakar.
‘’Secara pasti (penyebabnya apa, red) kami juga tidak tahu. Tapi yang jelas—berdasar informasi yang kami terima, pemadaman dilakukan karena kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik,’’ ujarnya.
Baca Juga: Negara Ini Gelap Gulita, Pemadaman Listrik Meningkat Akibat Impor Minyak Merosot Tajam
Konsekuensinya, lanjut Baskoro, untuk menghindari blackout atau pemadaman secara total di semua wilayah, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di beberapa lokasi. Itulah sebabnya, dalam sepekan terakhir ini terjadi pemadaman secara bergilir di semua wilayah se-Indonesia. ‘’Keputusan ini diambil untuk menjaga keandalan dan stabilitas sistem kelistrikan,’’ jelasnya.
Sederhananya, kebijakan pemadaman bergilir ini merupakan kebijakan load shedding atau pengurangan beban dengan cara pemutusan aliran listrik sementara yang dilakukan secara terencana oleh PLN. Tujuannya, menyeimbangkan pasokan dan permintaan energi, mencegah kerusakan jaringan, serta menghindari pemadaman total atau blackout saat kapasitas pembangkit sedang tidak mencukup.
Hanya saja, apakah pemadaman bergilir ini ada kaitannya dengan stok batu bara yang menipis? Baskoro tidak bisa memberikan jawaban. Karena itu, dia juga tidak bisa memastikan, sampai kapan kebijakan load shedding ini akan berlanjut. Hal ini menandaskan bahwa selama stabilitas sistem kelistrikan belum normal, maka pemadaman bergilir masih akan berlanjut.
Dan karena pemadaman secara bergilir dilakukan terpusat sehingga PLN di masing-masing daerah tidak bisa memberikan penjelasan secara pasti. Sebaliknya, terang Baskoro, pihaknya hanya diminta menyampaikan ke masyarakat terkait jadwal pemadaman secara bergilir. Itu pun terkadang mendadak sehingga masyarakat tidak bisa melakukan persiapan dini.
‘’Kami (UP3 PLN, red) hanya bisa menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,’’ tandasnya.
Kepastian tidak adanya gangguan teknis di lapangan sebagaimana penjelasan UP3 PLN Tuban menguatkan indikasi pemadaman strum tersebut terkait terbatasnya pasokan listrik. Salah satunya dari PLN Nusantara Power (NP) Unit Pembangkitan (UP) Tanjung Awar-Awar Jenu.
Sampai berita ini diturunkan kemarin pukul 17.30 belum ada penjelasan resmi dari PLN NP. ‘’Baik Pak, coba kami konfirmasikan terlebih dahulu ke bidang terkait nggih,’’ ujar Lia, staf sekretaris PLN NP menjawab pertanyaan tertulis Jawa Pos Radar Tuban melalui WhatsApp (WA) yang bersangkutan.
PLN NP Tanjung Awar-Awar Jenu adalah salah satu pembangkit listrik tenaga uap strategis yang berlokasi di Desa Wadung, Kecamatan Jenu. Fasilitas ini memiliki kapasitas total sebesar 2 × 350 MW dan menyuplai listrik untuk sistem interkoneksi Jawa-Bali melalui jaringan PLN.(tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni