Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kuota SD Sekolah Rakyat Tuban Belum Terpenuhi, Orang Tua Masih Ragu Sistem Asrama

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 21 Juni 2026 | 15:03 WIB
Staf Dinsos P3APMD Tuban melakukan penjangkauan siswa untuk masuk ke Sekolah Rakyat. Upaya tersebut untuk mengisi pagu siswa SD tahun ajaran 2026/2027. (DINSOS P3APMD UNTUK RADAR TUBAN)
Staf Dinsos P3APMD Tuban melakukan penjangkauan siswa untuk masuk ke Sekolah Rakyat. Upaya tersebut untuk mengisi pagu siswa SD tahun ajaran 2026/2027. (DINSOS P3APMD UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Kondisi kontras terjadi pada pelaksanaan sistem penerimaan murid baru (SPMB) Sekolah Rakyat (SR) tahun ajaran 2026/2027 di Tuban. Di tengah membludaknya pendaftar jenjang SMP dan SMA sekolah tersebut, kuota jenjang SD justru masih jauh dari harapan. 

Hingga pertengahan Juni, jumlah calon siswa SD yang mendaftar baru mengisi sekitar seperlima dari total daya tampung yang disediakan Kementerian Sosial (Kemensos).

Sebaliknya, minat masyarakat terhadap jenjang SMP dan SMA justru melampaui kapasitas yang tersedia.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3APMD) Tuban Mahendra Yanu Putra mengatakan, setiap jenjang memperoleh alokasi tiga rombongan belajar dengan kapasitas masing-masing 30 siswa.

Baca Juga: Ayah Driver Shopee Food yang Meninggal di Depan Proyek Sekolah Rakyat Tuban Menyusul Meninggal

“Sementara, dari informasi yang kami terima, untuk kuota jenjang SD memang masih kurang. Setiap jenjang mendapatkan jatah tiga rombongan belajar,” ujarnya.

Dengan demikian, jumlah siswa SD yang telah terisi diperkirakan baru mencapai 18 anak dari total kuota 90 siswa. Kondisi berbeda terjadi pada jenjang SMP dan SMA yang jumlah pendaftarnya mencapai dua kali lipat dari kapasitas yang tersedia.

Menurut Mahendra, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kemensos untuk menentukan mekanisme seleksi bagi jenjang yang mengalami kelebihan peminat. “Terkait dengan overload di jenjang SMP dan SMA, kami sudah berkoordinasi dengan Kemensos.

Apakah nantinya akan dilakukan seleksi berdasarkan pemeringkatan desil atau seperti apa, kami masih menunggu petunjuk dari kementerian,” katanya.

Mahendra menilai rendahnya minat pada jenjang SD tidak lepas dari penerapan sistem asrama atau boarding school di Sekolah Rakyat. Orang tua masih keberatan melepas anak usia dini untuk tinggal terpisah dari keluarga.

“Anak usia masuk SD sekitar 7 atau 8 tahun itu masih dini. Melepas anak sekecil itu untuk tinggal di asrama membuat orang tua berpikir lagi sebelum memutuskan. Berbeda dengan jenjang SMP dan SMA, kami masih bisa melakukan pendekatan agar anak mereka dilepaskan untuk mendapat pendidikan di SR,” ujarnya.

Sebaliknya, tingginya minat pada jenjang SMP dan SMA dipengaruhi oleh citra Sekolah Rakyat yang dinilai positif di tengah masyarakat. Program pendidikan berasrama yang diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu itu menjadi harapan baru bagi banyak orang tua.

Meski demikian, Mahendra menegaskan bahwa penerimaan siswa tidak dilakukan melalui mekanisme pendaftaran reguler seperti sekolah pada umumnya. Prioritas utama diberikan kepada keluarga yang masuk kategori desil satu dan desil dua berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.

“Untuk penjangkauan memang sudah ada prioritas terkait tingkatan kesejahteraan. Kami menjangkau yang desilnya memang di bawah, bukan melalui pendaftaran siswa seperti sekolah reguler,’’ terangnya.

Baca Juga: Gundukan Galian Proyek Sekolah Rakyat Tuban Baru Dibersihkan Setelah Tewaskan Driver Ojol

Apakah untuk non-desil bisa masuk SR? Dia menegaskan bisa asal memenuhi syarat. Sebab, bisa jadi ada anomali data, tidak tercatat, atau memang ada kemiskinan baru yang belum tersurvei, ‘’I tu bisa masuk kriteria,” imbuhnya.

Dia menambahkan, sejumlah fasilitas fisik sekolah memang masih dalam tahap penyelesaian. Namun, proses belajar mengajar dipastikan tetap dimulai pada tahun ajaran baru mendatang.

Pemanfaatan gedung akan dilakukan secara bertahap dengan menerapkan pembagian zona yang aman. 

“Nanti akan diterapkan sistem zonasi area yang aman. Terpenting, ruang belajar dari rombel yang sudah ditetapkan itu sudah siap dipakai,” ujarnya.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#dinsos p31pmd #Tuban #Sekolah Rakyat