Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rupiah Melemah, Harga Beton di Tuban Berpotensi Naik hingga 20 Persen

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 22 Juni 2026 | 17:00 WIB
Pengusaha beton di Tuban memperkirakan harga material konstruksi akan naik seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(RADAR TUBAN)
Pengusaha beton di Tuban memperkirakan harga material konstruksi akan naik seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(RADAR TUBAN)

RADARTUBAN –Efek domino melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai merambat ke daerah.

Sektor konstruksi di Tuban merasakan dampaknya, menyusul kenaikan biaya bahan baku yang mulai bergerak naik secara bertahap.

Pelaku usaha beton dan jasa konstruksi kini mulai bersiap menghadapi potensi lonjakan harga.

Di lapangan, harga beton diperkirakan naik hingga 20 persen apabila tekanan biaya produksi terus berlanjut. Komoditas semen menjadi pemicu awal yang mulai menunjukkan kenaikan di tingkat pemasok.

Baca Juga: SBY Soroti Penguatan Rupiah dan IHSG, Sebut Sinyal Positif untuk Ekonomi Indonesia

Novi Nikmah, pengusaha beton lokal Tuban mengakui saat ini harga di pasar masih relatif stabil.

Namun, sinyal kenaikan sudah mulai terasa dari pihak supplier yang memberi tanda akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat. “Kemungkinan bulan depan sudah ada kenaikan harga,” ungkap Novi.

Menurut dia, potensi kenaikan hingga 20 persen bukan hal yang berlebihan jika tren kenaikan biaya produksi terus terjadi. Saat ini, kenaikan paling nyata baru terlihat pada semen yang berada di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 61 ribu per 40 kilogram.

Meski demikian, dia memerkirakan bahan material lain juga akan ikut menyesuaikan.

“Sementara yang sudah terasa baru semen. Kemungkinan bahan-bahan lainnya juga akan ikut menyesuaikan,” imbuhnya.

Kondisi ini menjadi sinyal tekanan bagi sektor konstruksi lokal. Beton sebagai material utama dalam pembangunan fisik sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan baku, yang pada akhirnya berdampak langsung pada rencana anggaran biaya (RAB) proyek.

Dampaknya juga menjalar ke sektor jasa konstruksi. Sejumlah pelaku usaha mengakui mulai terjadi perlambatan minat masyarakat untuk membangun rumah maupun proyek kecil akibat kekhawatiran lonjakan biaya.

Faiz, pegawai jasa konstruksi di Tuban, menyebut sebagian calon klien memilih menunda pembangunan setelah menghitung ulang kebutuhan biaya.

“Beberapa klien sebelumnya yang awalnya ingin membangun rumah mulai dari nol terpaksa berhenti dan hanya sampai proses desainnya saja,” ujarnya.

Baca Juga: Rupiah Masih Cenderung Terus Melemah? Ini Strategi Keuangan yang Perlu Dilakukan

Dia menilai, kondisi ini perlu diantisipasi agar tidak menekan sektor konstruksi lebih jauh. Apalagi, fluktuasi harga material biasanya diikuti dengan penyesuaian biaya tenaga kerja dan kebutuhan proyek lainnya.

Kenaikan harga yang mulai terasa di semester kedua 2026 ini menjadi peringatan bagi pelaku usaha maupun masyarakat di Bumi Ronggolawe.

Di tengah ketidakpastian harga material, perencanaan anggaran menjadi kunci agar pembangunan tidak terhambat di tengah jalan.

“Kami berharap stabilitas ekonomi makro ini membaik, supaya ke depan beban sektor konstruksi tidak bertambah,” ujar Faiz. (saf/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #rupiah #beton #konstruksi #semen