RADARTUBAN - Ambruknya atap ruang kelas 1 UPT SDN Trantang, Kecamatan Kerek, Tuban, mulai memunculkan pertanyaan mengenai kualitas bangunan yang baru diresmikan pada 2024 lalu.
Usianya yang belum genap dua tahun membuat kerusakan tersebut dinilai tidak lazim. Bahkan, memunculkan dugaan adanya persoalan pada kualitas konstruksi.
Di balik runtuhnya atap ruang kelas pada Sabtu (20/6), sejumlah guru mengaku telah lama merasakan kekhawatiran saat menempati bangunan tersebut. Retakan yang terus membesar dan kondisi lantai yang ambles disebut sudah muncul sejak bangunan mulai digunakan.
Salah seorang guru yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, kerusakan tidak hanya terjadi pada bagian atap yang ambruk. Hampir seluruh sisi barat bangunan mengalami penurunan permukaan lantai yang cukup signifikan.
Baca Juga: Baru Renovasi 2024, Atap Ruang Kelas SDN Trantang Tuban Ambruk
“Seluruh lantai di sisi barat ambles, kalau dari luar kelihatan dindingnya juga retak menyeluruh,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Senin (22/6).
Menurut dia, kualitas material bangunan juga menjadi sorotan. Dinding yang semestinya kokoh justru mudah mengalami kerusakan.
Bahkan, saat memasang spanduk atau banner, retakan baru kerap muncul ketika paku ditancapkan. “Kami takut kalau mau masang banner, setiap kali menancapkan paku langsung memunculkan retakan besar,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan guru lainnya. Dia mengaku heran karena kerusakan parah terjadi pada bangunan yang relatif baru. Menurut dia, pihak yang mengerjakan proyek tersebut seharusnya turut memberikan penjelasan terkait kondisi bangunan.
“Harusnya pihak yang membangun bangunan ini juga dimintai pertanggungjawaban, paling tidak memberikan penjelasan,” ujarnya.
Selama ini, kata dia, para guru berupaya berhati-hati saat beraktivitas di dalam ruangan. Mereka menghindari gerakan yang dikhawatirkan dapat memperparah kerusakan bangunan.
Kondisi bagian selatan yang mulai miring dan ambles bahkan memunculkan kekhawatiran tersendiri. Muncul juga guyonan, guru-guru dengan bobot tubuh lebih berat disebut memilih tidak berada di sisi barat bangunan karena khawatir terjadi pergerakan tanah yang dapat memicu keruntuhan.
“Bahkan karena sisi selatan miring dan amblas, siapa saja yang di sini punya berat badan berlebih tidak berani menempati sisi barat, takut tanahnya gerak atau roboh,” selorohnya.
Bangunan ruang kelas tersebut dibangun pada 2023 dengan anggaran sekitar Rp 765 juta. Namun, sebelum genap dua tahun digunakan, sejumlah kerusakan telah bermunculan dan berpuncak pada ambruknya atap ruang kelas 1.
Baca Juga: Mangkrak Sejak 2021, Nasib Gedung Baru PN Tuban Senilai Rp 13 Miliar Masih Menggantung
Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan SD Dinas Pendidikan Tuban M. Nurdin mengatakan, peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bagi jajarannya untuk memperkuat pengawasan terhadap sarana pendidikan.
“Ini menjadi catatan tentunya untuk lebih meningkatkan asesmen di seluruh sekolah, agar jika ada kerusakan bisa segera tertangani,” katanya.
Dia memastikan percepatan penanganan akan dilakukan agar kerusakan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Dinas Pendidikan, menurut dia, juga tengah memperluas pemantauan terhadap kondisi bangunan sekolah di berbagai wilayah Kabupaten Tuban.
“Tahun ini kami juga masif memonitoring kondisi bangunan sekolah lainnya di wilayah Kabupaten Tuban,” ujarnya. (an/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama