RADARTUBAN - Kekhawatiran yang sebelumnya telah disuarakan akhirnya menjadi kenyataan.
Belum genap tiga pekan setelah ambruknya atap selasar SDN Kutorejo III pada 3 Juni lalu, kini giliran SDN Trantang, Kecamatan Kerek, kembali mengalami insiden serupa pada Sabtu (20/6).
Peristiwa berulang ini semakin menguatkan desakan agar Pemerintah Kabupaten Tuban segera melakukan audit menyeluruh terhadap kelayakan bangunan sekolah di bawah Dinas Pendidikan.
Baca Juga: Baru Renovasi 2024, Atap Ruang Kelas SDN Trantang Tuban Ambruk
‘’Kami tidak pernah berharap ada sekolah yang ambruk. Tapi dengan insiden robohnya gedung SDN Trantang ini menegaskan bahwa audit kelayakan bangunan mendesak dilakukan. Dan itu yang saya sampaikan tiga pekan lalu (pasca peristiwa runtuhnya atap selasar SDN Kutorejo III, red),’’ kata Staf Bidang Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Wawan Purwadi kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (22/6).
Wawan menegaskan, peristiwa runtuhnya atap selasar SDN Kutorejo III—yang notabenenya berada di tengah kota, bahkan hanya selemparan batu dari kantor Pemkab Tuban—hal ini menegaskan bahwa kondisi kualitas bangunan sekolah masih luput dari pengawasan.
‘’Jika bangunan sekolah tengah kota saja masih luput dari pengawasan, lalu bagaimana dengan kondisi bangunan sekolah di desa-desa yang jauh dari pusat pemerintahan. Dan insiden ambruknya bangunan SDN Trantang semakin mengafirmasi tesis tersebut,’’ jelasnya.
Apalagi, lanjut Wawan, dari dua insiden runtuh dan ambruknya dua lembaga pendidikan sekolah dasar tersebut tidak disebabkan faktor alam.
Oleh sebab itu, tegas mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tersebut, tidak ada alasan lagi bagi pemerintah daerah untuk mengabaikan audit kualitas bangunan sekolah.
‘’Kita bersyukur tidak ada yang menjadi korban dari insiden itu, dan kita berharap semoga tidak pernah ada yang menjadi korban (dari peristiwa runtuh dan ambruknya bangunan sekolah, red),’’ ujarnya.
Lebih lanjut, Wawan menegaskan, yang dipatut di- highlight dari dua peristiwa di atas adalah penyebab runtuh dan ambruknya bangunan. Jika bukan faktor alam dan usia yang menyebabkan rusaknya bangunan, maka patut dicurigai adalah kesalahan konstruksi.
Terlebih, usia bangunannya juga baru beberapa tahun.
‘’Hal paling mudah untuk mengetahui penyebab ambruknya bangunan adalah melakukan audit konstruksi, apakah sudah sesuai spesifikasi atau tidak. Dan itu bisa dilihat dari kondisi bangunan yang rusak,’’ jelasnya sekaligus berharap ada audit secara menyeluruh dari dua insiden runtuh dan ambruknya bangunan sekolah tersebut, khususnya SDN Trantang.
Wawan menambahkan, pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, penting bagi pemerintah untuk menempatkan pembangunan bidang pendidikan di prioritas utama.
‘’Bukan berarti pembangunan di bidang lain tidak penting, tapi pendidikan harus diutamakan. Sederhananya, tidak perlu membangun gedung-gedung perkantoran dan taman-taman yang mewah jika bangunan sekolah masih ada yang tidak layak,’’ tandasnya. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama