RADARTUBAN – Angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Kabupaten Tuban kembali mengkhawatirkan. Sepekan terakhir, Satlantas Polres Tuban mencatat puluhan pengendara bertumbangan di jalan raya akibat kecelakaan.
Berdasarkan data Unit Penegakkan Hukum (Gakkum) Satlantas Polres Tuban mulai tanggal 16-23 Juni, total ada 23 insiden kecelakaan yang terjadi di sejumlah titik jalan raya wilayah Bumi Wali.
Dari peristiwa itu, sebanyak 33 pengendara menjadi korban dengan rincian, 5 korban meninggal dunia dan 28 korban luka-luka.
Baca Juga: Legenda Keris Suro Banyuwangi, Pusaka Blambangan yang Konon Dibentuk dengan Jari Tangan
Lonjakan kasus tersebut bertepatan dengan datangnya bulan Suro yang dalam kepercayaan sebagian masyarakat Jawa kerap dianggap sebagai bulan rawan terjadi musibah.
Namun, di samping pengaruh kepercayaan tersebut, aparat kepolisian menilai ada faktor penyebab utama yang jauh lebih rasional.
Pemangku Sementara (PS) Kanit Gakkum Satlantas Polres Tuban Iptu Eko Sulistiono menilai, tren kecelakaan yang meningkat setiap memasuki bulan suro tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan mitos yang berkembang atau langsung diklaim menjadi faktor penyebab kecelakaan.
Dari hasil analisis dan penyelidikan setiap kejadian menunjukan faktor penyebabnya tetap sama dari tahun ke tahun yakni akibat human error, ditambah dengan meningkatkan mobilitas kendaraan setiap kali memasuki bulan Suro.
‘’Memang benar dari data menunjukan setiap tahunnya ketika memasuki bulan suro tren kecelakaan meningkat, namun itu tidak bisa dijadikan patokan,’’ ujar perwira yang baru saja dimutasi sebagai Kapolsek Grabagan itu.
Disampaikan Iptu Eko, sejauh ini ada dua titik menjadi wilayah rawan kecelakaan yakni jalan lingkar selatan (JLS) dan jalan raya Tuban–Widang.
‘’Dua titik itu treknya lurus panjang, banyak pengendara yang melaju dengan kecepatan melebihi batas sehingga rawan terjadi kecelakaan,’’ bebernya.
Lebih lanjut dikatakan perwira berpangkat balok dua emas itu, setiap insiden kecelakaan memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi secara teknis.
Oleh karena itu, tidak ada korelasi langsung antara bulan suro dengan meningkatnya angka kecelakaan.
‘’Yang perlu diperbaiki adalah perilaku berkendara, keselamatan lalu-lintas tidak ditentukan bulan apa sekarang, tetapi bagaimana pengguna jalan bisa mematuhi aturan guna meniminalisir terjadinya kecelakaan,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama