Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Musim Kemarau, Petani Tuban Beralih ke Jagung, Target Produksi Naik Jadi 784 Ribu Ton

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 26 Juni 2026 | 17:18 WIB
Keterbatasan air saat musim kemarau mendorong petani Tuban menanam jagung, produksi tahun 2026 ditarget mencapai 784 ribu ton. (Unsplash @Waldemar Brandt)
Keterbatasan air saat musim kemarau mendorong petani Tuban menanam jagung, produksi tahun 2026 ditarget mencapai 784 ribu ton. (Unsplash @Waldemar Brandt)

RADARTUBAN - Memasuki musim kemarau, pola tanam petani di Tuban mulai bergeser. Berkurangnya ketersediaan air membuat sebagian petani yang biasanya menanam padi memilih beralih ke jagung.

Perubahan tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah daerah menaikkan target produksi jagung pada 2026.

Data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Tuban mencatat target produksi jagung tahun ini ditetapkan sebesar 784.380 ton. Angka itu meningkat 1.614 ton dibanding target tahun sebelumnya yang mencapai 782.766 ton.

Kepala DKP2P Tuban Eko Julianto mengatakan, target tersebut cukup menantang mengingat capaian produksi jagung pada 2025 sudah melampaui sasaran yang ditetapkan. Dari target 782.766 ton, realisasi produksi bahkan menembus 852.939 ton.

Baca Juga: Biaya Pemanfaatan Naik Signifikan, Petani Hutan Kian Tertekan, Nasib Swasembada Jagung dalam Ancaman?

“Targetnya besar, kami menyesuaikan dengan target tersebut,” ujarnya.

Menurut Eko, optimisme peningkatan produksi didasarkan pada prediksi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.

Kondisi itu diperkirakan mendorong semakin banyak petani beralih menanam jagung karena keterbatasan pasokan air di lahan pertanian. 

“Karena ketersediaan air selama kemarau berkurang, petani yang biasa tanam padi beralih ke jagung,” katanya.

Perubahan pilihan komoditas tersebut dinilai rasional. Dibanding padi, tanaman jagung lebih toleran terhadap kondisi lahan dengan pasokan air terbatas. Kebutuhan air yang lebih rendah membuat risiko gangguan pertumbuhan akibat kekeringan dapat ditekan.

Fenomena itu terutama terlihat di kawasan pertanian tadah hujan yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan.

Ketika musim kemarau datang, petani menghadapi risiko kekurangan air untuk budidaya padi sehingga memilih tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi kering. 

“Daerah tadah hujan memang lebih banyak menanam jagung. Tanaman ini tidak membutuhkan air sebanyak padi sehingga lebih sesuai dengan kondisi yang ada,” imbuhnya.

Selain faktor teknis budidaya, pertimbangan ekonomi turut memengaruhi keputusan petani. Biaya pemeliharaan jagung relatif lebih rendah, sementara risiko gagal panen akibat kekurangan air juga lebih kecil dibandingkan padi pada musim kemarau.

Baca Juga: Sepi Ing Gawe, Rame Ing Panen: Cerita Di Balik Panen Raya Jagung Prabowo di Tuban

Karena itu, setiap memasuki periode kering, luas tanam jagung cenderung mengalami peningkatan.

Mantan Camat Semanding tersebut menilai bertambahnya areal tanam menjadi modal penting untuk mendongkrak produksi. Selama ini, Tuban dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung di Jawa Timur yang setiap tahun memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan komoditas tersebut.

“Apalagi selama ini Tuban dikenal sebagai salah satu daerah sentra jagung di Jawa Timur dengan kontribusi produksi yang cukup besar setiap tahunnya,” pungkasnya. (fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #musim kemarau #produksi #jagung