RADARTUBAN – Cuaca panas yang menyelimuti Tuban sejak Mei lalu sempat menandai datangnya musim kemarau.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di kabupaten pesisir utara Jawa Timur itu justru diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
Perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kondisi musim saat ini.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Stasiun Meteorologi Tuban Muhammad Nur menegaskan, seluruh wilayah Jawa Timur, termasuk Tuban telah memasuki musim kemarau.
Baca Juga: Bahlil Resmikan Mini LNG Rp 1,1 Triliun di Tuban, Pasokan Diprioritaskan untuk Dalam Negeri
Kendati demikian, kondisi atmosfer yang dinamis masih memungkinkan munculnya hujan sesaat di sejumlah daerah.
Menurut dia, fenomena tersebut dipicu oleh gangguan konvergensi cuaca lokal yang terjadi di Jawa Timur.
Selain itu, suhu muka laut yang masih relatif hangat turut meningkatkan proses penguapan sehingga mendukung pembentukan awan hujan. “Perubahan cuaca yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir di Tuban ini dipicu oleh gangguan konvergensi cuaca lokal di Jawa Timur,’’ ujarnya.
Selain itu, lanjut Nur, suhu muka laut saat ini masih menunjukkan aktivitas penguapan yang cukup signifikan.
Akibat kondisi tersebut, hujan ringan hingga sedang masih dapat turun di sejumlah wilayah. Bahkan, dalam beberapa kasus disertai petir dan angin kencang yang datang secara mendadak.
Meski hujan masih sesekali terjadi, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah terhadap potensi kekeringan pada paruh kedua tahun ini. Ancaman tersebut berkaitan dengan perkembangan fenomena iklim global El Nino yang saat ini menunjukkan penguatan.
Berdasarkan pembaruan indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) per 21 Juni 2026, nilai indeks tercatat mencapai +1,11.
Angka tersebut menunjukkan kondisi El Nino aktif yang berpotensi mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia. Fenomena itu diperkirakan masih akan berlangsung dan berpeluang menguat hingga awal 2027.
“Dampaknya, musim kemarau di Kabupaten Tuban diperkirakan bakal berlangsung jauh lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa masuknya musim kemarau bukan berarti sama sekali tidak ada hujan,” ujar pria asal Magelang itu.
Tanda-tanda berkurangnya curah hujan di Tuban sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa bulan terakhir. Pada April, curah hujan masih berada pada kategori menengah, yakni 101–150 milimeter.
Baca Juga: Cuaca Panas dan Risiko Dehidrasi, Ini yang Perlu Diperhatikan
Memasuki Mei, jumlahnya turun menjadi 51–100 milimeter atau masuk kategori rendah. Sementara pada Juni, curah hujan tercatat kurang dari 50 milimeter.
Menurut Nur, tren tersebut diperkirakan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Curah hujan selama tiga bulan ke depan diproyeksikan tetap berada di bawah 50 milimeter, seiring menguatnya musim kemarau.
“Untuk tiga bulan ke depan, diprediksi curah hujan di Tuban akan terus berada di tren kurang dari 50 milimeter,” ujarnya.
BMKG memerkirakan cuaca di Tuban selama sepekan ke depan didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan. Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai kemungkinan hujan lokal yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama pada siang hingga malam hari.
“Namun, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi turunnya hujan secara tiba-tiba, terutama pada rentang waktu siang hingga malam hari,” pungkasnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama