Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

PMI Tuban Musnahkan 48 Kantong Darah Reaktif HIV, Hepatitis, dan Sifilis Selama Semester I 2026

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 3 Juli 2026 | 16:43 WIB
Petugas UDD PMI Tuban melakukan pengecekan pada kantong-kantong darah yang telah steril sebelum didistribusikan. (UDD PMI UNTUK RADAR TUBAN)
Petugas UDD PMI Tuban melakukan pengecekan pada kantong-kantong darah yang telah steril sebelum didistribusikan. (UDD PMI UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN — Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Tuban memusnahkan 48 kantong darah selama Januari hingga Juni 2026.

Pemusnahan itu setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan darah tersebut reaktif terhadap penyakit infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi. Jumlah tersebut setara sekitar 0,6 persen dari 6.955 kantong darah yang berhasil dihimpun sepanjang semester pertama tahun ini.

Seluruh kantong darah tersebut dinyatakan tidak layak digunakan setelah melalui proses skrining wajib terhadap empat jenis penyakit infeksi. Keempat penyakit tersebut, Hepatitis B, Hepatitis C, HIV, dan sifilis.

Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari prosedur pengamanan sebelum darah didistribusikan kepada pasien.

Baca Juga: Stok Darah PMI Tuban Menipis, Golongan AB Tinggal 4 Kantong

Humas UDD PMI Tuban, Sarju Efendi menjelaskan, setiap kantong darah yang diterima selalu melewati tahapan pemeriksaan laboratorium secara ketat untuk memastikan keamanan transfusi.

Dia menerangkan, hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 37 kantong darah reaktif Hepatitis B, 1 kantong reaktif Hepatitis C, 6 kantong reaktif HIV, dan 4 kantong reaktif sifilis.

Meski terdapat temuan darah reaktif, Sarju menilai angkanya masih tergolong rendah karena berada di bawah satu persen dari total darah yang terkumpul. Dia mengatakan, sebagian besar temuan berasal dari pendonor yang baru pertama kali mendonorkan darah, terutama melalui kegiatan donor darah keliling atau mobile unit.

"Ada beberapa yang dari pendonor lama, tapi mayoritas memang dari pendonor baru," katanya.

Menurut Sarju, pendonor yang hasil pemeriksaannya reaktif tidak serta-merta dinyatakan mengidap penyakit tertentu. Sesuai standar operasional, mereka akan dinonaktifkan sementara sebagai pendonor dan dianjurkan menjalani pemeriksaan lanjutan secara berkala.

PMI memberikan jeda tiga bulan sebelum pemeriksaan ulang pertama dilakukan, kemudian dilanjutkan evaluasi berikutnya. Apabila hingga pemeriksaan pada bulan kesembilan hasilnya tetap menunjukkan reaktif, pendonor akan dinonaktifkan secara permanen dari kegiatan donor darah.

"Pemeriksaan memang dilakukan sangat ketat untuk memastikan apakah darahnya benar reaktif atau tidak," ujar alumni Unitomo Surabaya itu. Namun, pelaksanaan prosedur tersebut kerap menghadapi kendala.

Menurut Sarju, tidak sedikit pendonor yang enggan kembali menjalani pemeriksaan lanjutan setelah mengetahui hasil skrining awal.

"Mayoritas cenderung takut dan syok setelah tahu hasilnya. Mereka yang awalnya berniat murni untuk beramal dan melakukan aksi sosial, justru mendapati kenyataan bahwa darahnya terdeteksi reaktif," tutur pria 37 tahun itu.

Baca Juga: PMI Asal Aceh dan Bayinya Jadi Korban Pembunuhan di Malaysia Motif Masalah Utang 

Dia menambahkan, kekhawatiran pendonor umumnya muncul ketika mendengar hasil reaktif HIV. Padahal, menurutnya, setiap hasil skrining tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.

Sementara dari sisi penularan, hepatitis juga merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius.

Sarju memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keamanan darah yang didistribusikan PMI. Seluruh kantong darah yang menunjukkan hasil reaktif langsung dimusnahkan dan tidak pernah masuk ke rantai pelayanan transfusi.

"Seluruh darah yang reaktif dipastikan langsung dimusnahkan dan tidak akan pernah keluar dari laboratorium kami. Kami menjamin bahwa darah yang didistribusikan ke pasien maupun ke rumah sakit di Kabupaten Tuban benar-benar aman," tegasnya.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pmi #hiv #sifilis #hepatitis