RADARTUBAN - Perubahan pola belanja masyarakat yang kian mengarah ke platform digital tidak hanya dirasakan pusat-pusat perdagangan di perkotaan.
Pasar rakyat di tingkat desa pun mulai menghadapi tantangan serupa. Pedagang harus beradaptasi dengan kebiasaan konsumen yang kini semakin akrab dengan belanja melalui marketplace.
Fenomena itu tampak di Pasar Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak. Di antara deretan lapak yang menjual kebutuhan sehari-hari, kios-kios pakaian terlihat lebih lengang. Tidak banyak pembeli yang singgah untuk memilih busana seperti beberapa tahun lalu.
Kepala Pasar Sambonggede, Sholakhudin mengatakan, penurunan aktivitas paling terasa dialami pedagang pakaian. Meski pengunjung tetap datang ke pasar, hanya sedikit yang mampir ke lapak-lapak di bagian barat pasar tempat para pedagang pakaian berjualan. "Pedagang pun tidak bisa berbuat banyak," ujarnya.
Baca Juga: Daftar Raja Properti Indonesia, Dua Emiten Kuasai Kapitalisasi Pasar Fantastis
Menurut Sholakhudin, kondisi tersebut juga dirasakan sejumlah pasar lain. Salah satu penyebab yang diduga memengaruhi adalah perubahan perilaku masyarakat yang semakin sering berbelanja secara daring. Melalui telepon pintar, konsumen dapat membandingkan harga dan memilih beragam produk tanpa harus datang ke pasar. "Tentu ini sangat berdampak bagi pedagang," katanya.
Meski demikian, dia menilai aktivitas pasar secara keseluruhan masih relatif stabil. Jumlah pengunjung tidak mengalami penurunan yang signifikan karena kebutuhan pokok tetap menjadi alasan utama masyarakat datang ke pasar.
Sejak pukul 03.00 dini hari, Pasar Sambonggede sudah mulai ramai. Para pedagang keliling atau rengkek datang membeli barang dagangan dalam jumlah besar untuk dijual kembali di desa-desa sekitar. "Pedagang yang pakai rengkek ini memfasilitasi orang-orang yang tidak sempat ke pasar," ujarnya.
Memasuki pukul 06.00 hingga siang hari, giliran masyarakat umum berdatangan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, seperti cabai, beras, dan berbagai keperluan dapur lainnya. "Secara umum Alhamdulillah Pasar Sambonggede masih stabil," imbuhnya.
Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky sebelumnya juga menyoroti tantangan yang dihadapi pasar rakyat di tengah pesatnya perkembangan perdagangan digital.
Menurut dia, pasar desa tetap menjadi bagian penting dalam menggerakkan perekonomian lokal, namun harus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.
"Sebanyak 90 pasar desa di 20 kecamatan saat ini tengah berjuang menghadapi tantangan tren belanja daring," ujarnya.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan di pasar hewan justru menunjukkan tren berbeda. Empat pasar hewan milik pemerintah daerah di Tuban, Jatirogo, Kerek, dan Bulujowo, Kecamatan Bancar, mencatat peningkatan nilai transaksi setelah momentum Iduladha.
"Transaksi masif dan aman secara klinis pasca momentum Iduladha pada Mei lalu," kata Mas Lindra, panggilan akrabnya.(fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama