RADARTUBAN - Pagi di Kabupaten Tuban belakangan terasa berbeda. Udara dingin yang biasanya hanya terasa menjelang subuh kini bertahan lebih lama, bahkan masih terasa ketika matahari mulai meninggi.
Fenomena yang oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai bediding itu menjadi penanda khas musim kemarau sedang mencapai puncaknya.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tuban Muhammad Nur menjelaskan, penurunan suhu udara tersebut dipicu oleh angin monsun dari Benua Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin.
"Fenomena bediding ini disebabkan angin monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin karena di Benua Australia sedang musim dingin," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Paris, Suhu Tembus 38 Derajat Celsius, Warga Diminta Tetap di Rumah
Tidak hanya dipengaruhi aliran massa udara dingin, kondisi langit yang relatif cerah tanpa banyak tutupan awan juga memperkuat penurunan suhu pada malam hari.
Saat siang, permukaan bumi menyerap panas matahari secara maksimal. Namun, ketika malam tiba, panas itu dengan mudah terlepas kembali ke atmosfer karena tidak tertahan oleh lapisan awan.
Akibatnya, udara dingin bertahan hingga pagi sebelum perlahan menghangat seiring meningkatnya intensitas sinar matahari.
"Suhu dingin dari malam hari ini akan terasa hingga pagi hari, sampai ada penyinaran matahari yang mulai menghangatkan permukaan bumi," papar mantan kepala Stasiun Meteorologi Aek Godang, Sumatera Utara itu.
Rasa dingin juga semakin terasa karena embusan angin. Meski tidak bertiup kencang, aliran udara tetap memberikan sensasi dingin yang lebih kuat di kulit.
"Gambarannya bisa dibandingkan jika kita menghidupkan AC suhu 19 tanpa angin atau blower dan AC suhu 19 pakai angin atau blower. Jadi angin yang berembus akan menambah rasa dingin," ujar Nur.
Meski demikian, secara teknis kecepatan angin pada malam hingga pagi hari di wilayah Tuban justru tergolong rendah.
"Pada malam hari hingga pagi kecepatan anginnya cenderung rendah yaitu berkisar teduh atau calm sampai dengan 5 knot atau 9 kilometer per jam," katanya.
Data Automatic Weather Station (AWS) BMKG Tuban menunjukkan suhu udara minimum pada periode 9–10 Juli mencapai 21,5 derajat Celsius. Sementara itu, dalam 24 jam terakhir suhu minimum tercatat 22,4 derajat Celsius.
BMKG memerkirakan fenomena bediding masih akan berlangsung selama angin monsun Australia mendominasi wilayah Indonesia.
Baca Juga: Musim Bediding Segera Datang, Suhu Malam di Jawa dan Bali Mulai Menurun
Kondisi tersebut umumnya berakhir ketika pola angin bergeser menjadi monsun Asia pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
"Fenomena alam khas musim kemarau ini diprediksi masih akan terus berlangsung sampai pola angin monsun Australia berganti menjadi angin monsun Asia, yaitu kisaran masa peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan di bulan September hingga Oktober mendatang," ujarnya.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban