Sebagian keris tersebut diperkirakan berasal dari periode 1300-an, ketika perkembangan industri metalurgi dan pembuatan senjata di Nusantara mengalami kemajuan pesat.
Deni Anto, staf Museum Kambang Putih Tuban mengatakan, seluruh koleksi keris bersejarah tersebut merupakan hibah dari masyarakat. Sebagian keluarga menyerahkan pusaka warisan karena kesulitan melakukan perawatan secara mandiri.
“Keris-keris ini membutuhkan perawatan khusus agar tidak mudah berkarat, yang lambat laun bisa memicu kerusakan fisik pada bilahnya. Karena sudah tidak bisa merawat, keluarga akhirnya menghibahkan keris ini ke museum,” jelas Deni kepada Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Legenda Keris Suro Banyuwangi, Pusaka Blambangan yang Konon Dibentuk dengan Jari Tangan
Koleksi keris di museum yang berada di Jalan KH Mustain, itu tidak hanya berasal dari wilayah Jawa Timur. Sejumlah keris berasal dari tradisi budaya Sunda.
Perbedaan latar belakang budaya tersebut terlihat dari bentuk bilah, ukiran, dan warangka atau sarung keris. Koleksi yang tersimpan juga memiliki bentuk beragam, mulai dari keris lurus hingga keris ber-luk atau bergelombang.
Jumlah luk pada keris umumnya ganjil. Selain itu, sejumlah koleksi memiliki ukiran flora dan fauna dengan detail yang rumit.
Beberapa koleksi berasal dari wilayah Widengan. Jenisnya antara lain keris Tilam Upih dengan warangka Gayaman Surakarta, keris Pamor Udan Mas, golok pusaka, tombak, dan patrem.
Patrem merupakan keris berukuran kecil dengan lima luk yang pada masa lalu digunakan kaum lelaki sebagai simbol kewibawaan dan kejantanan.
“Setiap keris memiliki luk yang berbeda. Setiap jumlahnya juga memiliki lambang yang berbeda arti pula,” jelasnya.
Menurut Deni, bilah keris umumnya dibuat dari wesi aji atau besi yang telah melalui proses ritual dan doa. Pada masa kerajaan, keris juga menjadi salah satu penanda status sosial pemiliknya.
“Pemilik keris dengan ukiran yang rumit maupun berbahan emas maupun bahan berkualitas lainnya dimiliki oleh mereka yang berkasta tinggi. Sedangkan keris dengan ukiran sederhana dimiliki rakyat biasa. Dahulu keris memang sebagai simbol status sosial di masyarakat,” imbuh Deni.
Museum Kambang Putih juga memiliki keris dengan gagang berbahan gading gajah. Keris tersebut merupakan hibah dari Bojonegoro. Namun, karena keterbatasan ruang, koleksi itu belum dipajang di ruang pamer. “Yang terdisplay ini kurang lebih 28 sampai 30 keris. Tapi di ruang penyimpanan kami masih banyak lagi. Salah satunya keris dengan gading gajah itu,” ujarnya.
Untuk menjaga kondisi koleksi, museum melakukan perawatan secara berkala. Salah satu perawatan yang dilakukan adalah jamasan. Jamasan dilakukan untuk membersihkan bilah keris, menjaga warna asli logam, mempertahankan guratan pamor, serta mencegah korosi.
“Jamasan keris ini kami lakukan selama tiga bulan sekali. Langkah tersebut penting untuk menjaga warna asli bilah keris, mempertahankan guratan ukirannya, dan mencegah logam dari korosi,” papar Deni.
Berbeda dengan jamasan yang kerap dikaitkan dengan ritual sakral di kalangan pencinta tosan aji, perawatan koleksi keris di Museum Kambang Putih dilakukan sebagai bagian dari konservasi benda bersejarah.
“Proses pembersihan koleksi pusaka ini murni hanya untuk perawatan dan penyelamatan aset sejarah saja,” ujarnya.(saf/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni