RADARTUBAN – Guna mengoptimalkan keterisian kuota Sekolah Rakyat Dasar (SRD) atau jenjang SD, Kementerian Sosial (Kemensos) melalui pemerintah daerah (pemda) meminta kepada dinas sosial untuk kembali melakukan sosialisasi secara door to door kepada masyarakat atau orang tua siswa, khususnya desil 1 dan 2 agar bersedia melepas anaknya masuk asrama Sekolah Rakyat (SR). Pemerintah memberikan batas waktu maksimal hingga dua bulan ke depan.
Sebagaimana diketahui, hasil penjangkauan calon siswa SR Terintegrasi 18 Tuban jenjang SD hanya mendapat 16 anak. Itu pun sejauh ini belum dapat dipastikan kesediaannya secara penuh. Apalagi, 16 anak tersebut juga mendaftar dan mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di SD negeri.
‘’Untuk orang tuanya sudah oke (mengasramakan anaknya di SR, red). Namun, selama belum ada SK (dari Menteri Sosial), kami belum bisa mengatakan final,’’ kata Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos P3APMD) Tuban Sugeng Purnomo selaku tim koordinasi SR Tuban.
Baca Juga: Pembangunan Gedung Gagal Capai Target, Hari Pertama Masuk Sekolah Rakyat Tuban Ditunda Akhir Juli
Jika 16 anak hasil penjangkauan sementara saja belum dapat dipastikan ketersediaannya secara penuh, lantas bagaimana dengan target dari Kementerian Sosial untuk mencapai tingkat keterisian kuota yang telah disediakan?
Sugeng mengungkapkan, jika targetnya untuk mencapai tingkat keterisian kuota secara penuh atau tiga rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas masing-masing 30 anak, maka hampir dapat dipastikan sulit tercapai. Karena itu, baginya, memenuhi target satu rombel saja sudah cukup.
‘’Iya, memang ada instruksi untuk kembali melakukan sosialisasi dan penjangkauan untuk jenjang SD selama dua bulan ke depan, karena hampir semua daerah memang tidak mencapai target. Tapi bisa memenuhi satu rombel saja sudah bagus,’’ tuturnya.
Disinggung soal langkah dan strategi meyakinkan orang tua agar bersedia mengasramakan anaknya, Sugeng hanya bisa menjawab secara diplomatis.
Yang jelas, terang dia, tim yang ditugasi untuk melakukan penjangkauan akan berusaha meyakinkan kepada orang tua siswa, khususnya dari desil 1 dan 2 agar bersedia melepas anaknya masuk asrama. ‘’Istilahnya ngrimuk (merayu), karena memang program ini sebenarnya bagus,’’ tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) sekolah rakyat (SR) gelombang dua akan digelar serentak pada 31 Juli 2026 di 63 titik gedung permanen se-Indonesia. Dan salah satunya termasuk SR Terintegrasi 18 Kabupaten Tuban.
Sebagai persiapan, Sabtu besok (25/7), pembangunan SR permanen di Jalan Letda Sucipto, Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban diharuskan sudah rampung.(tok)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban