RADARTUBAN - Bagi sebagian pengunjung, Museum Kambang Putih Tuban mungkin hanya dikenal sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Padahal, di antara koleksi museum itu tersimpan sebuah artefak yang diyakini berkaitan dengan asal-usul nama Kabupaten Tuban.
Artefak tersebut berupa batu yoni peninggalan masa Hindu yang hingga kini masih terawat di museum yang berlokasi di Jalan RA Kartini, Tuban. Selain memiliki nilai arkeologis, batu itu juga lekat dengan legenda yang diwariskan turun-temurun.
Deni Anto, staf Museum Kambang Putih Tuban menuturkan, cerita rakyat menyebutkan bahwa dahulu seekor burung bangau terbang dari Kediri menuju Demak sambil membawa sebuah batu. Saat melintas di atas kawasan perbukitan kapur, batu itu terlepas dan jatuh.
Baca Juga: Ribuan Keramik Kuno Jadi Bukti Kejayaan Laut Tuban Mendominasi Koleksi Museum Kambang Putih
“Batu yang jatuh itu kemudian dijuluki sebagai Watu Tiban (batu yang jatuh). Tepat di lokasi jatuhnya yoni tersebut, wilayah itu kemudian dinamakan Tuban oleh masyarakat dahulu,” ujar Deni kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Secara arkeologis, batu tersebut merupakan yoni, yakni media pemujaan dalam tradisi Hindu. Dalam ajaran Hindu, yoni melambangkan Dewi Parwati sebagai simbol kesuburan dan dipasangkan dengan lingga yang merepresentasikan Dewa Siwa.
Keistimewaan artefak itu tidak berhenti pada kisah legenda. Pada salah satu sisinya masih terlihat pahatan aksara kuno yang memuat angka tahun 1400 Saka.
Sebagai benda suci pada masanya, yoni tersebut juga dihiasi berbagai ornamen simbolis, termasuk saluran pancuran atau cawa yang dahulu digunakan untuk mengalirkan air pembasuh ritual atau amerta.
Menurut Deni, sejak Museum Kambang Putih difungsikan, yoni tersebut memang telah berada di area belakang bangunan museum.
Dia juga mengungkapkan, sebenarnya terdapat satu batu yoni lain yang berukuran lebih kecil. Namun, keberadaannya diperkirakan tertimbun di bawah kawasan permukiman warga, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan ekskavasi. “Proses ekskavasi tidak mungkin lagi dilakukan karena posisinya berada tepat di bawah rumah penduduk dan sudah tidak lagi terlihat di permukaan,” katanya.
Meski telah berusia ratusan tahun, yoni itu tidak hanya dipandang sebagai benda cagar budaya. Sebagian masyarakat masih menganggapnya memiliki nilai sakral.
Setiap Jumat Wage dalam penanggalan Jawa, misalnya, masih ada warga yang datang membawa bunga untuk berziarah atau nyekar. Sebagian di antaranya merupakan warga yang pernah bernazar dan kembali setelah merasa doanya terkabul, seperti sembuh dari penyakit.
“Masih ada warga yang datang karena memiliki nazar kemudian nyekar ke yoni ini setelah sembuh dari penyakit. Uniknya, yang datang untuk ritual bukan umat Hindu, melainkan warga muslim yang masih memegang kepercayaan leluhur tersebut. Kepercayaan seperti ini memang tidak bisa lepas total dari tradisi masyarakat. Tidak semua, tapi sebagian masih meyakini,” ujar Deni.
Keberadaan yoni di Museum Kambang Putih menunjukkan bahwa sebuah artefak tidak hanya menyimpan jejak peradaban masa lalu, namun juga merekam pertemuan antara sejarah, legenda, dan tradisi masyarakat.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban