Puncak Kemarau Tiba Lebih Awal, Tiga Kecamatan di Tuban Mulai Waspada Kekeringan

Andreyan (An) • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:33 WIB
Kondisi pepopohan jati di Desa Samborejo, Kecamatan Semanding tampak kering dan meranggas tanda memasuki puncak musim kemarau. (Andreyan/Radar Tuban)
Kondisi pepopohan jati di Desa Samborejo, Kecamatan Semanding tampak kering dan meranggas tanda memasuki puncak musim kemarau. (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN - Musim kemarau di Kabupaten Tuban tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun lalu.

Sejumlah wilayah bahkan mulai memasuki puncak kemarau lebih awal, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air.

Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas III Tuban Muchamad Nur mengatakan, seluruh wilayah Kabupaten Tuban saat ini telah memasuki musim kemarau.

Baca Juga: Tradisi Layang-Layang Kembali Warnai Langit Tuban di Musim Kemarau

Namun, intensitas kemarau tidak terjadi secara bersamaan di seluruh kecamatan.

Menurut dia, Kecamatan Senori, Parengan, dan Soko menjadi wilayah yang lebih dahulu memasuki puncak musim kemarau. Sementara itu, kecamatan lain diperkirakan baru mencapai fase tersebut pada Agustus mendatang.

"Senori, Parengan, Soko mulai masuk puncak musim kemarau, sedangkan daerah lainnya diperkirakan pada Agustus nanti baru masuk puncak musim kemarau," ujar Nur kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Dia mengatakan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan kekeringan. Memasuki puncak kemarau lebih awal berarti risiko menurunnya debit air dan terganggunya pasokan air bersih juga datang lebih cepat.

BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih lama dibandingkan kondisi klimatologis normal. Fenomena El Niño menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola cuaca tersebut.

"Musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata normalnya. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino, bahkan bisa bertahan sampai awal 2027," kata Nur.

Menurut dia, masyarakat di tiga kecamatan yang telah memasuki puncak kemarau perlu mulai mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin timbul, mulai dari berkurangnya ketersediaan air hingga potensi kekeringan di sejumlah wilayah.

Nur menambahkan, berakhirnya puncak musim kemarau tidak serta-merta diikuti datangnya musim hujan.

Sebelum memasuki musim penghujan, wilayah Tuban masih akan melewati masa peralihan atau pancaroba yang ditandai perubahan cuaca yang cenderung tidak menentu.

Karena itu, masyarakat diimbau terus mengikuti informasi terbaru dari BMKG.

Baca Juga: Tuban Sudah Masuk Musim Kemarau, Kok Masih Hujan? Ini Penjelasan BMKG

Prakiraan musim dapat berubah menyesuaikan perkembangan kondisi atmosfer sehingga pembaruan informasi menjadi penting untuk mendukung langkah antisipasi.

"Untuk lebih akuratnya, masyarakat agar selalu memantau perkembangan musim kemarau di BMKG, sebab prediksi yang sudah muncul saat ini bisa saja berubah lebih cepat atau justru lebih lambat," ujar Nur.(an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban kemarau kecamatan