RADARTUBAN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi musim kemarau.
Meski tingkat kekeringan di Kabupaten Tuban hingga saat ini masih berada dalam kategori normal, potensi krisis air bersih dan bencana iklim tetap perlu diwaspadai. Terlebih, kemarau tahun ini berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino berkategori kuat.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala BMKG Tuban Muhammad Nur menjelaskan, dampak El Nino tidak selalu sama di setiap daerah. Tingkat kekeringan ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik wilayah dan kondisi curah hujan setempat.
Baca Juga: Puncak Kemarau Tiba Lebih Awal, Tiga Kecamatan di Tuban Mulai Waspada Kekeringan
Untuk memantau kondisi tersebut, BMKG menggunakan standardized precipitation index (SPI), yakni indeks meteorologis yang mengukur penyimpangan curah hujan terhadap kondisi normal dalam periode panjang.
"Indeks SPI ini mengukur tingkat penyimpangan curah hujan terhadap kondisi normal dalam jangka waktu panjang. Penghitungannya menggunakan statistik probabilistik distribusi gamma," ujarnya.
Menurut Nur, suatu wilayah dikategorikan sangat kering apabila memiliki nilai SPI di bawah atau sama dengan -2,00. Adapun kategori kering berada pada rentang -1,50 hingga -1,99, kategori agak kering pada -1,00 hingga -1,49, sedangkan nilai -0,99 hingga 0,99 masih tergolong normal.
"Dari indeks ini diperkirakan sampai Agustus mendatang sebelum nantinya akan di-update lagi," katanya.
Nur menjelaskan, terdapat empat faktor utama yang memicu terjadinya kekeringan, yakni rendahnya curah hujan dalam waktu lama, suhu udara yang tinggi sehingga mempercepat penguapan, menurunnya kelembapan tanah, serta berkurangnya cadangan air permukaan seperti sungai, waduk, dan danau.
Berdasar pemetaan BMKG yang mengacu pada data distribusi air bersih Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, kawasan dataran tinggi masih menjadi wilayah yang paling rentan mengalami kekurangan air saat puncak musim kemarau.
"Namun, kondisi kekeringan di suatu daerah sangat bergantung pada karakteristik wilayah setempat. Daerah dataran tinggi yang tidak memiliki sumber air alami tentu menjadi titik paling rawan mengalami krisis air bersih," tutur Nur.
Selain ancaman kekurangan air bersih, BMKG juga mengingatkan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Suhu udara yang tinggi dan vegetasi yang mengering dinilai dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi kesehatan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan cuaca dan iklim.
"Menghadapi potensi risiko tersebut, kami mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kondisi fisik serta mematuhi protokol kesehatan dan keselamatan. Warga juga diimbau memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi dampak kemarau sejak dini," pungkas Nur. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban