RADARTUBAN - Jejak penyebaran Islam di Kabupaten Tuban tidak hanya terekam melalui situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan dakwah para wali.
Warisan itu juga tersimpan dalam sebuah mushaf Alquran kuno yang ditulis tangan di atas kertas tradisional Nusantara. Bukti sejarah ini sekaligus menjadi penanda kuat tradisi literasi Islam yang pernah tumbuh di pesisir Bumi Ronggolawe.
Mushaf tersebut ditemukan di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. Berdasarkan penelusuran sejarah dan kajian para pemerhati cagar budaya, naskah itu diperkirakan ditulis pada rentang 1801 hingga 1900.
Deni Anto, staf Museum Kambang Putih Tuban mengatakan, keistimewaan mushaf tersebut terletak pada media penulisannya. Seluruh ayat ditulis menggunakan aksara Arab di atas kertas daluang, yakni kertas tradisional yang dibuat dari kulit pohon saeh atau glugu. Media ini banyak digunakan di tanah air sebelum kertas modern dikenal luas.
Baca Juga: Ribuan Keramik Kuno Jadi Bukti Kejayaan Laut Tuban Mendominasi Koleksi Museum Kambang Putih
"Yang membuat mushaf ini begitu istimewa terletak pada media penulisan yang digunakan. Aksara dan tulisan Arab dalam kitab ini ditulis di atas kertas tradisional khas Nusantara yang terbuat dari lembaran kulit pohon saeh atau glugu atau disebut kertas daluang," jelas Deni kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Kondisi fisik mushaf tersebut tidak lagi utuh. Faktor usia dan kerusakan medianya menyebabkan sebagian halaman hilang, sehingga naskah yang tersisa kini hanya memuat 25 juz dengan 54 surah.
Menurut Deni, bagian awal mushaf yang berisi surah Al-Fatihah dan surah Al-Baqarah telah hilang sebelum naskah tersebut ditemukan. Karena itu, susunan ayat yang masih tersisa diawali dari surah Ali Imran dan berakhir pada surat Al-Waqi'ah.
Meski tak lengkap secara fisik, Deni menegaskan kandungan ajaran yang terdapat di dalam mushaf tetap mencerminkan nilai-nilai pokok dalam Islam. Naskah tersebut menjadi bukti bagaimana masyarakat pada masa lampau menjadikan Alquran sebagai sumber pembelajaran sekaligus pedoman kehidupan.
"Di dalamnya tetap memuat pokok-pokok rukun iman, rukun Islam, serta berbagai khazanah ilmu pengetahuan tentang bahasa Arab dan pedoman hidup yang sangat luas," tambahnya.
Bagi Museum Kambang Putih, keberadaan mushaf itu memiliki arti penting bukan hanya sebagai benda cagar budaya, namun juga sebagai rekam jejak berkembangnya tradisi intelektual Islam di Tuban.
Kemampuan menyalin Alquran secara manual menunjukkan adanya tradisi menulis, belajar, dan menjaga ilmu pengetahuan yang telah tumbuh di tengah masyarakat pada masa itu.
"Naskah kuno ini menjadi warisan sejarah sekaligus benteng spiritual bernilai tinggi yang patut terus dijaga kelestariannya di bumi wali," pungkasnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban